Jakarta, oegopost.id – Lampu kuning perekonomian nasional kembali menyala ketika nilai tukar rupiah tembus 18000 US$. Bahkan, angka tersebut melonjak hingga 9 persen di atas asumsi makro APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp16.500/US$.
Oleh karena itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyampaikan kekhawatirannya terkait tekanan pada kurs mata uang domestik ini. Selain itu, ia menilai pelemahan kurs yang berlangsung lama akan memicu lonjakan harga barang secara drastis.
Selanjutnya, kenaikan harga barang paling cepat merambat pada produk berbasis impor seperti pangan, obat-obatan, elektronik, BBM, serta biaya logistik. Akibatnya, lonjakan biaya bahan baku industri tersebut memicu kenaikan harga pasar yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Di samping itu, Rizal mengingatkan bahwa kenaikan harga barang di pasar selalu berjalan lebih cepat ketimbang kenaikan pendapatan warga. Alhasil, fenomena imported inflation ini berpotensi memukul kelompok kelas menengah sebagai penopang utama ekonomi nasional.
Padahal, konsumsi rumah tangga menyumbang porsi sangat besar terhadap struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Sebab, dari total konsumsi masyarakat tersebut, kelas menengah memegang porsi dominan hingga mencapai 80 persen.
Namun demikian, keputusan kelas menengah untuk mengetatkan anggaran belanja akan langsung memicu kontraksi perekonomian nasional secara luas. Bahkan, tekanan ekonomi berkelanjutan ini berisiko menurunkan status sosial kelas menengah menjadi warga miskin.
tekanan kurs memukul industri nasional dan memicu inflasi
Kondisi ini tentu saja membayangi target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok 5,4 persen pada tahun ini. Sementara itu, pemerintah juga membidik angka pertumbuhan sebesar 6 persen untuk periode tahun depan.
Oleh sebab itu, Rizal mengkhawatirkan target pertumbuhan ekonomi tersebut sulit tercapai tanpa adanya penanganan cepat dari otoritas terkait. Maka dari itu, ia menyarankan pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat sinergi demi menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Dengan demikian, Bank Indonesia harus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar dan menjaga daya tarik pasar aset domestik. Langkah strategis ini sangat diperlukan untuk menahan laju penurunan mata uang dari tekanan global.
Selain itu, pemerintah wajib menjaga kredibilitas fiskal, mengendalikan defisit anggaran, serta mempercepat penyerapan devisa hasil ekspor. Tentunya, langkah kolektif ini penting untuk memperkuat cadangan devisa serta menstabilkan posisi rupiah secara berkelanjutan.
Di sisi lain, penguatan industri domestik menjadi kunci utama dalam mengurangi ketergantungan nasional terhadap bahan baku impor. Hasilnya, langkah strategis ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari ancaman gejolak pasar eksternal.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong pemanfaatan produk lokal untuk menekan kebutuhan valuta asing di sektor manufaktur. Pada akhirnya, penurunan impor bahan baku akan mengamankan pasokan barang dan menjaga stabilitas harga dalam negeri.
Dengan begitu, sektor industri yang kuat akan melindungi masyarakat dari dampak buruk pelemahan nilai tukar mata uang. Oleh sebab itu, keberhasilan penguatan struktur industri dalam negeri menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.(ar)









