PGAS Mulai Lirik Bisnis Hidrogen Lewat Agenda RUPS 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PGAS mulai melirik bisnis hidrogen melalui agenda RUPS 2026 dengan rencana ekspansi Pertagas ke sektor energi baru dan terbarukan. ( Poto : KABARBURSA.COM ).

PGAS mulai melirik bisnis hidrogen melalui agenda RUPS 2026 dengan rencana ekspansi Pertagas ke sektor energi baru dan terbarukan. ( Poto : KABARBURSA.COM ).

Jakarta, oegopost.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mulai menunjukkan arah baru bisnis perusahaan melalui agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang akan berlangsung pada 22 Mei 2026.

Dalam agenda tersebut, PGAS meminta persetujuan pemegang saham untuk menambah kegiatan usaha anak perusahaannya, PT Pertamina Gas (Pertagas), ke sektor energi baru dan terbarukan termasuk industri hidrogen.

Langkah itu tercantum dalam mata acara ketujuh RUPS tahun buku 2025.

PGAS menilai penambahan lini usaha tersebut dapat membuka peluang bisnis baru di tengah perubahan industri energi global yang semakin mengarah pada penggunaan energi rendah emisi.

Dalam dokumen bahan RUPS, manajemen PGAS menjelaskan Pertagas akan memperluas kegiatan usaha ke bidang New & Renewable Energy dengan fokus pada pengembangan gas dan hidrogen.

Perusahaan menilai langkah tersebut layak dijalankan dan berpotensi mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Hidrogen Jadi Energi Masa Depan

Industri energi global saat ini mulai menempatkan hidrogen sebagai salah satu sumber energi masa depan.

Banyak negara menggunakan hidrogen untuk mendukung program pengurangan emisi karbon di sektor industri, transportasi, hingga pembangkit listrik.

Baca Juga :  Lonjakan Harga Cabai Rawit Menekan Pedagang Nasi Pecel di Madiun

Negara seperti Jepang dan Korea Selatan sudah memasukkan hidrogen ke dalam strategi energi nasional mereka.

Sejumlah perusahaan energi dunia seperti Shell dan BP juga mulai mengembangkan proyek hidrogen hijau sebagai bagian dari transisi energi.

Hydrogen Council memperkirakan hidrogen dapat memenuhi sekitar 18 persen kebutuhan energi dunia pada 2050.

Nilai pasar industri ini bahkan diprediksi mencapai USD2,5 triliun atau setara Rp42.250 triliun per tahun.

Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga mulai menyiapkan pengembangan hidrogen melalui Strategi Hidrogen Nasional.

Pemerintah menargetkan pemanfaatan hidrogen untuk sektor industri, pupuk, pembangkit listrik, hingga transportasi secara bertahap.

Kebutuhan hidrogen nasional diperkirakan meningkat dari 1,8 juta ton per tahun menjadi 32,6 juta ton per tahun pada 2060.

Proyeksi tersebut membuat banyak perusahaan energi mulai melihat peluang bisnis hidrogen sejak sekarang.

Pertagas Punya Kontribusi Besar ke PGAS

Rencana ekspansi hidrogen melalui Pertagas menjadi perhatian investor karena anak usaha tersebut memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan PGAS.

Berdasarkan laporan keuangan audit 2025, Pertagas membukukan pendapatan sekitar USD861,5 juta atau setara Rp14,56 triliun.

Baca Juga :  Cuan Mangga Dunia 2026 Tembus Rp1.200 Triliun, Indonesia Masih Tertinggal

Nilai tersebut menyumbang sekitar 21,67 persen terhadap total pendapatan konsolidasi PGAS yang mencapai USD3,9 miliar atau sekitar Rp65,91 triliun.

Karena kontribusinya melebihi 20 persen, perubahan kegiatan usaha Pertagas wajib mendapat persetujuan RUPS sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan.

PGAS menilai bisnis hidrogen dapat memberi kontribusi positif terhadap kinerja perusahaan pada masa depan.

Namun perusahaan juga perlu menyiapkan investasi besar untuk membangun infrastruktur, teknologi, dan pasar pengguna hidrogen di Indonesia.

Investor Pantau Arah Baru PGAS

Agenda pengembangan hidrogen menjadi salah satu fokus utama dalam RUPS PGAS tahun ini.

Selain membahas penggunaan laba dan perubahan pengurus, investor mulai mencermati arah transformasi bisnis perusahaan di tengah tren transisi energi global.

Keputusan masuk ke industri hidrogen tidak langsung memengaruhi kinerja keuangan jangka pendek.

Namun langkah tersebut memberi sinyal bahwa PGAS mulai membuka peluang menjadi perusahaan energi yang lebih luas, tidak hanya berfokus pada distribusi gas bumi.

Melalui agenda ini, PGAS menunjukkan upaya perusahaan untuk tetap relevan di tengah perubahan industri energi dunia yang terus bergerak menuju energi bersih dan rendah karbon.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPW IAEI Jambi 2026–2031 Resmi Dilantik, Al Haris Dorong Ekonomi Syariah
Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Juni 2026: Dexlite Turun, Pertamax Turbo Naik
123 PKS Langgar Aturan Harga Sawit, Pemerintah Siap Cabut Izin
Trafik Tol Betung–Tempino–Jambi Turun 7,44 Persen, JTTS Tetap Tumbuh Saat Libur Panjang 2026
Dollar AS Diburu Saat Rupiah Melemah, Money Changer Pastikan Stok Tetap Aman
Rupiah Dekati Rp17.900, Begini Cara ESDM Menjaga Harga BBM Subsidi Tetap Stabil
Cara Dapat Uang dari TikTok Ramai Dicari, Ini yang Paling Banyak Dipelajari
Harga TBS Sawit Dipangkas di Lapangan, 139 PKS Disorot Pengamat
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:00 WIB

DPW IAEI Jambi 2026–2031 Resmi Dilantik, Al Haris Dorong Ekonomi Syariah

Selasa, 2 Juni 2026 - 07:26 WIB

Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Juni 2026: Dexlite Turun, Pertamax Turbo Naik

Senin, 1 Juni 2026 - 17:00 WIB

123 PKS Langgar Aturan Harga Sawit, Pemerintah Siap Cabut Izin

Minggu, 31 Mei 2026 - 18:00 WIB

Trafik Tol Betung–Tempino–Jambi Turun 7,44 Persen, JTTS Tetap Tumbuh Saat Libur Panjang 2026

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:00 WIB

Dollar AS Diburu Saat Rupiah Melemah, Money Changer Pastikan Stok Tetap Aman

Berita Terbaru