Kabupaten Tebo, 0egopost.id – WWF Indonesia memperkuat restorasi Bukit Tigapuluh melalui program berbasis masyarakat di Kabupaten Tebo, Jambi. Organisasi konservasi ini menggandeng petani lokal sebagai pelaku utama dalam pemulihan ekosistem hutan yang mengalami degradasi.
WWF Indonesia melibatkan 112 petani yang tergabung dalam tujuh kelompok tani. Mereka aktif menanam, merawat, dan memantau bibit secara langsung di lapangan dengan pendampingan teknis dari tim program.
WWF Indonesia bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jambi memaparkan perkembangan program dalam kegiatan diseminasi dan pemutaran film di Kantor Bappeda Litbang Kabupaten Tebo, Kamis (25/6/2026). Kegiatan itu menghadirkan pemerintah daerah, BKSDA Jambi, KPHP, NGO, kelompok tani, dan jurnalis.
Petani Tebo Jalankan Restorasi Hutan Secara Mandiri
WWF Indonesia mendorong model restorasi berbasis masyarakat sebagai strategi utama pemulihan hutan. Program ini menempatkan petani sebagai penggerak utama sejak tahap perencanaan hingga pemantauan pertumbuhan tanaman.
Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia, Nazli Herimsyah, menjelaskan bahwa program ini mengarah pada tiga tujuan utama. Program ini memulihkan lahan terdegradasi, meningkatkan ekonomi warga, dan menekan konflik manusia dengan satwa liar.
Nazli menegaskan bahwa masyarakat berperan sebagai pengambil keputusan dalam proses restorasi. Pendekatan ini memperkuat rasa kepemilikan terhadap kawasan hutan yang mereka kelola.
Warga Tebo Tanam 30523 Bibit Beragam Jenis
WWF Indonesia mencatat warga telah menanam 30.523 bibit dari 28 jenis tanaman hingga pertengahan 2026. Sebanyak 25 jenis tanaman berasal dari pembibitan yang dikelola langsung oleh masyarakat.
Petani membangun rumah pembibitan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan bibit. Mereka juga mengikuti pelatihan pembuatan kompos untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan tanaman.
WWF Indonesia mendampingi petani dalam mitigasi konflik satwa liar dan penggunaan aplikasi digital untuk memantau perkembangan tanaman. Pendampingan ini membantu meningkatkan efektivitas pemantauan di lapangan.
Bentang Alam Bukit Tigapuluh memiliki luas lebih dari 350 ribu hektare. Namun, kawasan ini hanya menyisakan sekitar 40 persen tutupan hutan dan menjadi habitat penting gajah Sumatera, harimau Sumatera, dan satwa dilindungi lainnya.
BKSDA Dorong Kolaborasi Jaga Habitat Satwa Liar
BKSDA Jambi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga kelestarian Bukit Tigapuluh. Wilayah ini mencakup berbagai fungsi kawasan yang membutuhkan pengelolaan bersama.
Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, menyebut populasi gajah Sumatera di kawasan itu mencapai 96 hingga 129 ekor. Ia menilai masyarakat memegang peran penting karena hidup berdampingan langsung dengan habitat satwa.
Himawan mendorong masyarakat menjadi subjek utama dalam konservasi. Ia juga mengajak seluruh pihak membangun tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, NGO, perusahaan, dan pengelola kawasan.
Ia juga mendorong pengembangan ekowisata berbasis masyarakat sebagai alternatif ekonomi yang sejalan dengan konservasi hutan.
Anggota AJI Jambi, Suang Sitanggang, menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan program restorasi. Ia melihat warga terlibat aktif sejak pembibitan hingga perawatan tanaman.
Suang menjelaskan bahwa petani menganggap tanaman sebagai investasi jangka panjang. Mereka berharap tanaman tersebut dapat memberikan tambahan pendapatan di masa depan.
Meski menghadapi tantangan seperti hama dan banjir, petani tetap menjaga tingkat keberhasilan tanaman tetap tinggi. Para pihak juga membahas tantangan pengelolaan kawasan dalam forum diseminasi tersebut.
Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, organisasi konservasi, dan media memperkuat upaya menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian hutan di Bukit Tigapuluh.(ar)









