Jambi, oegopost.id – Prof Mairizal Guru Besar menjadi salah satu kisah inspiratif yang mewarnai dunia pendidikan tinggi di Jambi.
Universitas Jambi (UNJA) resmi mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Mairizal, M.Si. sebagai Guru Besar bidang Mikrobiologi dan Enzimatik Teknologi Pakan Unggas dan Non Ruminansia di Fakultas Peternakan UNJA.
Prosesi pengukuhan berlangsung di Balairung Pinang Masak UNJA pada Senin. Momen tersebut menjadi puncak perjalanan panjang akademik seorang putra daerah asal Sungai Penuh yang tumbuh dalam keluarga sederhana.
Di tengah suasana khidmat pengukuhan, Mairizal mengenang masa kecilnya. Ia tumbuh dari keluarga yang mengandalkan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sang ibu, Nurbaya, setiap hari menggoreng makanan untuk dijual. Sementara itu, ayahnya, Samuddin Sutan Mangkudun, bekerja di ladang sebagai petani.
Menurut Mairizal, kedua orang tuanya tidak banyak memberikan petuah panjang. Namun, mereka menunjukkan teladan melalui kerja keras yang dilakukan setiap hari.
“Tidak ada kata-kata bijak yang mereka ajarkan, hanya kerja keras setiap hari,” kenangnya.
Nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi dalam menjalani pendidikan dan karier akademik hingga saat ini.
Menempuh Pendidikan dari Sungai Penuh hingga Doktor
Perjalanan pendidikan Mairizal dimulai di Sungai Penuh. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di daerah kelahirannya sebelum melanjutkan studi ke Universitas Andalas.
Setelah meraih pendidikan sarjana, ia melanjutkan program magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Langkah akademiknya berlanjut hingga jenjang doktoral yang berhasil diselesaikan di Universitas Andalas pada 2018.
Perjalanan tersebut membawanya bergabung dengan lingkungan akademik Universitas Jambi. Di kampus itu, ia mengembangkan karier sebagai dosen sekaligus peneliti.
Bidang penelitian yang ditekuni Mairizal berfokus pada pemanfaatan mikroorganisme untuk meningkatkan efisiensi pakan ternak. Topik tersebut juga menjadi bagian penting dalam disertasi doktoralnya.
Ia menaruh perhatian terhadap tingginya ketergantungan sektor peternakan pada bahan pakan impor. Karena itu, ia mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sebagai solusi untuk memperkuat kemandirian pakan nasional.
“Intinya sederhana, bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal untuk kemandirian pakan,” ujarnya.
Gagasan tersebut terus ia kembangkan melalui berbagai penelitian yang berkaitan dengan mikrobiologi dan teknologi pakan.
Keterbatasan Tidak Menghalangi Prestasi
Perjalanan menuju gelar Guru Besar tidak selalu berjalan mudah. Mairizal mengaku harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan fasilitas penelitian dan tuntutan publikasi ilmiah.
Meski demikian, pengalaman hidup sebagai anak petani justru membentuk karakter yang tangguh. Ia terbiasa menghadapi keterbatasan sejak kecil sehingga mampu bertahan dalam berbagai situasi.
“Sebagai bagian dari keluarga sederhana, saya terbiasa dengan keterbatasan. Itu justru membentuk ketahanan,” katanya.
Selain ketekunan pribadi, ia juga mendapatkan dukungan dari mahasiswa, rekan dosen, serta lingkungan akademik yang mendukung pengembangan pendidikan dan penelitian di kampus.
Di balik capaian akademik tersebut, Mairizal menyimpan rasa haru yang mendalam. Ia mengaku tidak pernah melupakan jasa kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Baginya, perjuangan sang ibu yang berjualan gorengan dan kerja keras ayahnya di ladang menjadi sumber motivasi sepanjang hidup. Kenangan itu terus mengiringi setiap langkah hingga berhasil mencapai jabatan akademik tertinggi.
“Gelar Guru Besar ini adalah sujud syukur. Ini bukan hanya milik saya, tapi milik orang tua saya,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga, termasuk istri dan anak-anak, yang selalu memberikan dukungan selama perjalanan akademiknya.
Komitmen untuk Pendidikan dan Peternakan
Setelah resmi menyandang gelar Guru Besar, Mairizal berkomitmen memperkuat riset di bidang mikrobiologi dan enzimatik. Salah satu fokusnya ialah pengembangan kemandirian pakan nasional melalui pemanfaatan Bungkil Inti Sawit.
Selain itu, ia juga ingin memperkuat penerapan sistem pendidikan berbasis Outcome-Based Education (OBE) di lingkungan Universitas Jambi.
Menurutnya, penelitian harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong agar hasil riset dapat menjawab kebutuhan peternak dan sektor peternakan nasional.
“Riset harus berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya peternak,” tegasnya.
Kepada generasi muda, Mairizal berpesan agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi. Ia mengajak anak-anak muda untuk menjadikan keterbatasan sebagai kekuatan dalam meraih masa depan.
“Jadikan keterbatasan sebagai kekuatan. Dari situ kita belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda,” ujarnya.
Pengukuhan Prof. Mairizal sebagai Guru Besar menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan pendidikan mampu mengantarkan seseorang dari kehidupan sederhana menuju puncak prestasi akademik.(ar)









