POPSI Desak Evaluasi Mandatori B50, Petani Sawit Khawatir Beban Meningkat

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani sawit minta kebijakan biodiesel lebih adil, fleksibel, dan tidak menambah beban ekonomi mereka.( poto :  halojambi.com )

Petani sawit minta kebijakan biodiesel lebih adil, fleksibel, dan tidak menambah beban ekonomi mereka.( poto : halojambi.com )

Jambi, oegopost.id – Isu mandatori B50 biodiesel memicu perhatian organisasi petani sawit rakyat yang menilai pemerintah perlu mengkaji ulang rencana peningkatan campuran biodiesel dari B35 ke B50. Mereka menyoroti potensi dampak kebijakan tersebut terhadap kesejahteraan petani sawit.

Organisasi tersebut menegaskan bahwa kebijakan biodiesel harus memberikan manfaat langsung bagi petani sebagai pemasok utama bahan baku. Mereka juga menilai selama ini petani justru menanggung banyak konsekuensi dari program energi berbasis sawit.

Ketua organisasi, Mansuetus Darto, meminta pemerintah menempatkan kesejahteraan petani sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan transisi energi. Ia menekankan pentingnya keadilan dalam pembagian manfaat industri sawit.

POPSI Minta Pemerintah Tunda Kenaikan Mandatori B50

POPSI meminta pemerintah menunda penerapan mandatori B50 biodiesel sampai pemerintah melakukan kajian menyeluruh. Mereka menilai keputusan kenaikan campuran biodiesel tidak boleh berlangsung secara tergesa-gesa.

Organisasi ini mendorong pemerintah mengevaluasi dampak kebijakan terhadap harga tandan buah segar (TBS), inflasi, daya saing ekspor, serta kemampuan fiskal negara. Mereka juga menyoroti peran dana sawit dalam menopang program biodiesel nasional.

Baca Juga :  Harga TBS Sawit Sumatera Fluktuatif di Akhir April 2026

Mansuetus Darto menegaskan bahwa ketahanan energi tidak boleh mengorbankan jutaan petani sawit di daerah sentra produksi. Ia meminta pemerintah memastikan kebijakan energi tetap berpihak pada petani kecil.

Petani Sawit Khawatir Beban Ekonomi Semakin Berat

Petani sawit menyampaikan kekhawatiran karena mereka menilai sebagian besar biaya program biodiesel selama ini menekan sektor hulu. Kondisi tersebut membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga pasar dan kebijakan pemerintah.

POPSI mengusulkan pemerintah meninjau enam aspek utama sebelum menerapkan B50. Aspek tersebut mencakup harga TBS, keberlanjutan dana BPDP, kemampuan fiskal, daya saing ekspor, inflasi komoditas, serta kesejahteraan petani.

Darto menilai kebijakan tanpa evaluasi menyeluruh dapat memperburuk tekanan ekonomi petani sawit. Ia meminta pemerintah menghindari kebijakan yang menambah beban struktural di sektor perkebunan rakyat.

Flexi Blending Dinilai Lebih Fleksibel Untuk Petani

POPSI mengusulkan skema flexi blending sebagai alternatif kebijakan biodiesel. Dalam skema ini, B30 menjadi batas minimum, sementara peningkatan ke B40 atau B50 dilakukan secara bertahap sesuai kondisi ekonomi dan produksi.

Baca Juga :  Harga TBS Sawit Dharmasraya 15 Juni 2026: Selisih Harga Antar PKS Capai Rp394 per Kg

Mereka menilai pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan dengan produksi crude palm oil (CPO) nasional, harga minyak dunia, serta kemampuan fiskal negara. Pendekatan ini dianggap lebih adaptif terhadap dinamika pasar energi.

Peneliti Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai kebijakan B50 tidak bisa di sederhanakan menjadi pilihan setuju atau tidak. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan B50 bergantung pada reformasi struktural sektor sawit.

Yayan mendorong peningkatan produktivitas petani, pemanfaatan limbah seperti minyak jelantah, dan fleksibilitas implementasi kebijakan. Ia juga menilai pendekatan tersebut dapat menjaga keseimbangan antara kedaulatan energi dan stabilitas ekonomi.

POPSI berharap pemerintah membuka ruang dialog lebih luas sebelum mengambil keputusan final terkait mandatori B50 biodiesel. Mereka menegaskan harga TBS tetap menjadi faktor utama dalam menjaga ekonomi petani sawit rakyat di Indonesia.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Barclays Pangkas 5.000 Karyawan demi Efisiensi AI
Hakim Batalkan Sanksi KPPU Rp 755 Miliar ke 97 Pinjol
Ajaib Rilis Fitur Investasi Reksa Dana Otomatis dari OJK
BI Pertahankan BI Rate 5,75 Persen, Kerek Deposit Facility
Panduan Pinjaman Tanpa BI Checking Lengkap Risiko dan Syarat
Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini Tembus Rekor Baru
Daftar Lengkap Harga Emas Batangan Pegadaian Hari Ini
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Stabil: Cek Rincian Galeri 24, Antam, dan UBS
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Barclays Pangkas 5.000 Karyawan demi Efisiensi AI

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Hakim Batalkan Sanksi KPPU Rp 755 Miliar ke 97 Pinjol

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:45 WIB

Ajaib Rilis Fitur Investasi Reksa Dana Otomatis dari OJK

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:14 WIB

BI Pertahankan BI Rate 5,75 Persen, Kerek Deposit Facility

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Panduan Pinjaman Tanpa BI Checking Lengkap Risiko dan Syarat

Berita Terbaru

Ilustrasi Pengemudi mencoba fitur T Intouch with Toyota Remote pada Kijang Innova Zenix terbaru di area parkir.(poto: AI).

Otomotif

Toyota Rilis Innova Zenix Terbaru 2026, Fitur Berubah Drastis

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:30 WIB

Ilustrasi Seorang karyawan membawa kotak barang di kantor Barclays saat pemangkasan 5.000 staf akibat integrasi AI.(poto: AI).

Bisnis

Barclays Pangkas 5.000 Karyawan demi Efisiensi AI

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:25 WIB

Ilustrasi Suasana sidang pembacaan putusan pembatalan denda pinjol oleh majelis hakim di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.(poto: AI).

Bisnis

Hakim Batalkan Sanksi KPPU Rp 755 Miliar ke 97 Pinjol

Jumat, 23 Okt 2026 - 16:20 WIB