Sungai Penuh, oegopost.id – Pemadaman listrik bergilir di Sungai Penuh kembali terjadi setelah gangguan pada jalur transmisi Sumatra Muara Bungo–Sungai Rumbai. Warga di Kerinci langsung merasakan dampaknya, meski daerah ini memiliki pembangkit besar yang disebut mampu menghasilkan listrik surplus. Isu listrik bergilir Sungai Penuh pun ramai dibahas publik.
Gangguan Transmisi Picu Pemadaman
Gangguan pada jaringan transmisi Sumatra membuat aliran listrik di beberapa wilayah tidak stabil. Kondisi ini memaksa operator menerapkan pemadaman bergilir agar sistem tetap seimbang.
Warga Sungai Penuh dan Kerinci merasakan listrik hidup-mati sejak siang hingga malam. Kondisi ini muncul setelah gangguan besar terjadi pada 22 Mei 2026.
Operator sistem langsung mengatur beban listrik agar jaringan tidak kolaps dan tetap bisa berfungsi secara bertahap.
PLTA Besar Jadi Sorotan Warga
Perhatian publik tertuju pada PLTA milik PT Kerinci Merangin Hidro yang memiliki kapasitas sekitar 350 megawatt. Pembangkit ini mengoperasikan empat turbin aktif dengan produksi stabil.
Warga mempertanyakan mengapa daerah penghasil listrik tetap mengalami pemadaman.
“Kalau listrik dari sini, kenapa kami masih ikut padam?” ujar seorang warga Kerinci.
Secara teknis, listrik dari PLTA langsung masuk ke sistem interkoneksi Sumatra. Sistem ini membagi listrik sesuai kebutuhan regional, bukan berdasarkan lokasi pembangkit.
PLN Jelaskan Sistem Pengaturan Beban
PLN menjelaskan bahwa mereka menerapkan pemadaman bergilir untuk menstabilkan jaringan setelah gangguan besar. Langkah ini membantu mencegah gangguan yang lebih luas di Sumatra.
Manajer PLN ULP Sungai Penuh, Eko Pitono, menegaskan bahwa sistem tidak mengalami pemadaman total.
“Tim kami mengatur beban agar sistem tetap stabil. Semua wilayah terdampak pengaturan ini,” katanya.
Sementara itu, pihak PLTA Kerinci Merangin Hidro memastikan seluruh unit beroperasi normal dan tidak mengalami gangguan produksi.
Dampak ke Warga dan Reaksi Publik
Warga tetap merasakan dampak langsung dari pemadaman bergilir ini. Aktivitas rumah tangga dan usaha kecil ikut terganggu karena listrik sering padam tanpa jadwal tetap.
Kondisi ini memicu diskusi soal distribusi listrik yang dianggap belum merata. Sebagian warga menilai daerah penghasil listrik seharusnya mendapat prioritas lebih.
Namun sistem interkoneksi tetap membagi listrik berdasarkan kebutuhan jaringan, bukan lokasi pembangkit. Hal ini sering menimbulkan perbedaan pandangan di masyarakat.(ar)









