Kelangkaan Bio Solar di Sungai Penuh-Kerinci Picu Antrean Panjang, Polisi Terapkan Pembatasan BBM Subsidi

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Kapolres Kerinci, AKBP Ramadhanil, S.H., S.I.K., M.H.(m poto : kerincitime.co.id)

Kapolres Kerinci, AKBP Ramadhanil, S.H., S.I.K., M.H.(m poto : kerincitime.co.id)

Sungai Penuh, oegopost.id – Kelangkaan Bio Solar di Sungai Penuh-Kerinci kembali memicu keresahan warga di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Selain itu, masyarakat mengaku kesulitan mendapatkan BBM subsidi jenis Bio Solar di sejumlah SPBU.

Akibat kondisi tersebut, antrean kendaraan terus mengular setiap hari. Bahkan, situasi di lapangan semakin memanas karena muncul perebutan antrean yang disertai dugaan aksi premanisme di beberapa titik pengisian.

Lebih lanjut, warga menilai distribusi BBM tidak berjalan adil. Sebab, kelompok tertentu disebut lebih mudah memperoleh Bio Solar, sementara masyarakat umum harus menunggu dalam waktu lama tanpa kepastian.

Harga Eceran Bio Solar Naik Drastis

Di sisi lain, kelangkaan ini juga berdampak langsung pada harga di tingkat pengecer. Warga melaporkan harga Bio Solar naik hingga sekitar Rp15.000 per liter di beberapa titik penjualan.

Dengan demikian, beban ekonomi masyarakat semakin meningkat. Terutama, sopir angkutan umum dan petani yang sangat bergantung pada BBM subsidi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, warga melihat adanya ketimpangan dalam proses antrean di SPBU. Beberapa kendaraan disebut mendapat prioritas lebih cepat dibanding kendaraan lain.

Bahkan, kendaraan yang baru datang kerap langsung masuk ke antrean depan. Sebaliknya, warga yang sudah menunggu lama tetap tidak mendapatkan giliran pengisian.

Baca Juga :  Pemkab Merangin Percepat Penanganan Banjir Bandang di Pulau Bayur

Oleh karena itu, kondisi ini memunculkan dugaan adanya pengaturan antrean yang tidak sesuai aturan di lapangan.

Polres Kerinci Ambil Langkah Pembatasan BBM Subsidi

Menanggapi situasi tersebut, Polres Kerinci segera menggelar rapat koordinasi. Selanjutnya, kepolisian menetapkan kebijakan pembatasan pengisian BBM subsidi harian di seluruh SPBU wilayah Kerinci dan Sungai Penuh.

Kebijakan ini kemudian diumumkan melalui pamflet resmi yang beredar sejak Kamis (4/6/2026). Dalam aturan itu, Polres membagi kuota berdasarkan jenis kendaraan.

Sebagai contoh, truk Fuso hanya dapat mengisi maksimal Rp600.000 atau sekitar 88 liter per hari. Kemudian, dump truck dibatasi Rp400.000 atau sekitar 58 liter. Sementara itu, kendaraan L300 dan sejenisnya hanya mendapat jatah Rp200.000 atau sekitar 29 liter per hari.

Pengawasan SPBU Diperketat oleh Aparat

Selain pembatasan, Polres Kerinci juga menempatkan personel di seluruh SPBU di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Dengan begitu, aparat dapat mengawasi langsung proses pengisian BBM subsidi.

Di samping itu, langkah ini bertujuan menjaga ketertiban antrean serta mencegah penyalahgunaan distribusi di lapangan. Oleh karena itu, pengawasan di perketat di titik-titik rawan.

Baca Juga :  Jambi Business Center Jadi Pusat Ekonomi Baru, Dorong Pertumbuhan Bisnis di Kota Jambi

Meski demikian, aktivis Kerinci, Edward P, menilai kebijakan tersebut belum menyentuh akar persoalan. Ia menegaskan bahwa aparat tidak boleh berhenti hanya pada pengawasan SPBU.

Sebaliknya, ia meminta aparat menelusuri jaringan yang di duga mengatur distribusi BBM subsidi secara ilegal. Menurutnya, masalah utama justru terjadi di luar SPBU.

Selain itu, Edward juga menyoroti dugaan penimbunan Bio Solar yang kemudian didistribusikan ke luar daerah. Ia menyebut Solar tersebut di duga di gunakan untuk mendukung aktivitas alat berat di tambang emas ilegal.

Dugaan Penyimpangan Sistem Distribusi BBM

Lebih lanjut, Edward menyinggung dugaan penyimpangan sistem distribusi, termasuk penggunaan barcode yang tidak sesuai aturan. Ia menilai pola tersebut perlu segera di telusuri oleh aparat.

Dengan demikian, ia menegaskan bahwa pengawasan di SPBU saja tidak cukup untuk menyelesaikan kelangkaan Bio Solar. Karena itu, ia mendorong penelusuran hingga ke jalur distribusi yang lebih luas.

Hingga saat ini, masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci masih menunggu langkah lanjutan aparat penegak hukum. Selain itu, warga berharap pengawasan tidak hanya berhenti di SPBU.

Sebaliknya, masyarakat meminta penelusuran di lakukan secara menyeluruh agar kelangkaan Bio Solar tidak terus berulang di wilayah tersebut.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wagub Jambi dan Wamen LH Cek Penanganan Karhutla Tanjung Jabung Timur
MTsN 1 Kota Sungai Penuh Dominasi Juara KOMPAS Jenjang MTs
Pelantikan Pejabat Kemenkum Jambi Perkuat Akuntabilitas Keuangan Organisasi
Kemenag Resmi Tutup Perhelatan KOMPAS Sungai Penuh 2026
Pemkab Merangin Peringati Maulid Nabi, Bupati M. Syukur Tekankan Pelayanan Publik Berakhlak
Bupati Merangin Komit Percepat Transformasi Digital Birokrasi Daerah
Pemkab Merangin Matangkan Perencanaan Pembangunan Sekolah Rakyat
Gubernur Jambi Dan Kasiops Korem 042 Gapu Cek Karhutla Tahura Batang Hari
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 12:11 WIB

Wagub Jambi dan Wamen LH Cek Penanganan Karhutla Tanjung Jabung Timur

Sabtu, 5 September 2026 - 12:02 WIB

MTsN 1 Kota Sungai Penuh Dominasi Juara KOMPAS Jenjang MTs

Sabtu, 5 September 2026 - 11:57 WIB

Pelantikan Pejabat Kemenkum Jambi Perkuat Akuntabilitas Keuangan Organisasi

Sabtu, 5 September 2026 - 11:31 WIB

Kemenag Resmi Tutup Perhelatan KOMPAS Sungai Penuh 2026

Jumat, 4 September 2026 - 17:02 WIB

Pemkab Merangin Peringati Maulid Nabi, Bupati M. Syukur Tekankan Pelayanan Publik Berakhlak

Berita Terbaru