Jambi, oegopost.id – Kabut asap Bandara Sultan Thaha Jambi mengacaukan operasional penerbangan komersial sepanjang hari pada Senin (5/10/2026). Partikel asap tebal menurunkan jarak pandang pilot secara drastis sejak pagi buta.
Kondisi cuaca buruk ini memaksa maskapai menunda jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat. Penumpang di area terminal keberangkatan terpaksa menunggu kepastian perbaikan cuaca di landasan pacu.
General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, membenarkan kejadian penurunan visibilitas udara tersebut. Ia menyebut fluktuasi jarak pandang memengaruhi langsung seluruh aktivitas lalu lintas udara.
Petugas navigasi mencatat jarak pandang hanya mencapai 750 meter pada pukul 06.00 WIB. Angka itu sempat naik ke level 1.100 meter satu jam berselang.
Situasi kembali memburuk saat kabut asap menebal pada pukul 08.00 WIB. Jarak pandang landasan pacu anjlok menyentuh angka 600 meter.
Meski cuaca berkabut, petugas tetap memberangkatkan dua penerbangan pagi yang menginap di apron bandara. Pesawat Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta berhasil lepas landas pukul 06.01 WIB saat visibilitas 750 meter.
Pilot Batik Air ID 6879 rute Kualanamu juga sukses memacu pesawatnya pada pukul 08.00 WIB. Saat itu, petugas bandara mencatat jarak pandang berada di posisi batas minimal 600 meter.
Dampak Gangguan Cuaca Buruk Terhadap Rute Penerbangan Harian
Gangguan kabut asap akhirnya menghantam jadwal penerbangan reguler lainnya secara meluas. Maskapai Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, hingga Susi Air mengalami penundaan kedatangan dan keberangkatan.
Kondisi darurat ini bahkan membuat manajemen Citilink mengambil tindakan cepat demi keselamatan penumpang. Pilot pesawat Citilink QG 960 dari Jakarta akhirnya mengalihkan pendaratan menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
Manajemen Susi Air juga mengambil langkah serupa dengan membatalkan operasional pesawat. Mereka membatalkan seluruh jadwal penerbangan perintis dari dan menuju Kerinci karena jarak pandang sangat berisiko.
Para calon penumpang hanya bisa menunggu di ruang tunggu bandara sambil memantau layar pengumuman. Petugas darat maskapai sibuk memberikan kompensasi serta penjelasan resmi mengenai kendala cuaca ekstrem tersebut.
Aktivitas pendaratan baru mulai berjalan normal saat sore hari mendekat. Pesawat Batik Air ID 6804 rute Jakarta berhasil menyentuh aspal landasan pacu pada pukul 15.00 WIB.
Kru maskapai segera mempersiapkan pesawat tersebut untuk perjalanan kembali ke ibu kota. Burung besi itu sukses mengudara kembali menuju Jakarta tepat pada pukul 15.45 WIB.
Upaya Pengelola Bandara Mengatasi Penumpukan Penumpang Terdampak Cuaca
Data operasional bandara memperlihatkan bahwa perbaikan jarak pandang sempat berlangsung pada siang hari. Angka visibilitas bergerak naik mencapai 1.900 meter tepat pada pukul 11.00 WIB.
Kondisi landasan terus membaik hingga mencapai jarak pandang 2.200 meter pada pukul 15.00 WIB. Namun, kepekatan kabut asap kembali turun drastis menjadi 1.000 meter saat jarum jam menyentuh 16.00 WIB.
Petugas mencatat perbaikan jarak pandang kembali terjadi satu jam kemudian pada pukul 17.00 WIB. Angka visibilitas melonjak ke posisi aman di angka 2.100 meter.
Pihak pengelola bandara langsung menggelar komunikasi intensif bersama seluruh perwakilan maskapai dan pemangku kepentingan. Langkah ini penting guna mencegah penumpukan penumpang dan menjaga kelancaran alur pelayanan terminal.
Ardon Marbun menegaskan komitmen timnya dalam menangani keluhan seluruh calon penumpang yang tertunda perjalanannya. Petugas terminal terus menyiarkan perkembangan cuaca dan jadwal penerbangan secara berkala melalui pengeras suara.
“Tim operasional Bandara Sultan Thaha telah berkoordinasi dengan pihak maskapai dan instansi terkait guna memastikan penanganan terhadap penumpang yang mengalami penundaan keberangkatan serta secara rutin melakukan pembaruan informasi terkait jadwal keberangkatan dan kedatangan penerbangan yang terdampak kabut asap,” tutur Ardon.
Pihak otoritas bandara terus memantau pergerakan kabut asap bersama badan meteorologi setempat. Mereka memprioritaskan faktor keselamatan penerbangan di atas jadwal operasional maskapai.(ar)









