Jakarta, oegopost.id – IHSG koreksi tajam pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026. Indeks turun 3,38 persen dan berhenti di level 7.129. Penurunan ini menegaskan tekanan jual yang masih mendominasi pasar, meskipun ruang pelemahan mulai terbatas.
Sepanjang pekan, IHSG mencatat penurunan hingga 6,61 persen. Kondisi IHSG koreksi tajam ini menunjukkan tekanan jual berlangsung konsisten dan menghapus peluang kenaikan sebelumnya, termasuk menutup gap yang sempat terbentuk.
Fase Akhir Koreksi Mulai Terlihat
Analis melihat pergerakan IHSG saat ini memasuki fase akhir dari tren penurunan. Pola gelombang menunjukkan indeks berada di wave [v], yang biasanya menjadi titik akhir dari siklus koreksi. Di sisi lain, skenario alternatif menempatkan IHSG pada akhir wave [b] dari wave B. Kedua skenario ini sama-sama mengindikasikan bahwa penurunan masih mungkin terjadi, namun dengan ruang yang semakin sempit.
Pada awal pekan, IHSG berpotensi menguji area 7.022 hingga 7.115. Level ini menjadi titik penting karena berfungsi sebagai penentu apakah tekanan jual mulai mereda atau justru berlanjut. Jika tekanan jual tetap dominan, IHSG berisiko turun lebih dalam hingga menyentuh level 6.917. Sebaliknya, jika terjadi pemulihan, indeks akan menghadapi resistance di kisaran 7.313 hingga 7.484, yang kini menjadi area distribusi jangka pendek.
Pergerakan Saham Mulai Selektif
Pergerakan pasar tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.200 per dolar AS turut menambah tekanan. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah juga mengurangi likuiditas di pasar saham.
Kondisi ini mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio, sehingga tekanan jual masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Meskipun IHSG melemah, sejumlah saham mulai menunjukkan tanda-tanda akumulasi. Investor kini cenderung lebih selektif dalam memilih saham.
ADMR Tunjukkan Sinyal Akumulasi
Saham Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) naik 1,90 persen ke level 1.880 dengan volume transaksi yang meningkat. Kenaikan ini mencerminkan minat beli yang mulai muncul. Area 1.775 hingga 1.865 menjadi titik masuk yang menarik, dengan target harga di kisaran 1.970 hingga 2.090.
Saham Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) turun 4,50 persen ke level 530. Pergerakan ini menunjukkan saham masih berada dalam fase koreksi. Investor dapat mencermati area 482 hingga 530, dengan peluang rebound ke 595 hingga 630 jika tekanan mereda.
DAAZ Bergerak Melawan Tren
Saham Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) justru melonjak 5,80 persen ke level 2.370. Lonjakan ini didukung volume tinggi yang menunjukkan dorongan beli kuat. Namun, harga masih berada di bawah MA20, sehingga konfirmasi tren naik belum sepenuhnya terbentuk. Area 1.930 hingga 2.220 menjadi level penting untuk menjaga momentum, dengan target 2.670 hingga 2.910.
Saham Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 2,66 persen ke level 2.930. Tekanan jual masih membayangi, tetapi peluang rebound tetap terbuka. Area 2.720 hingga 2.880 menjadi level krusial, dengan potensi kenaikan ke 3.120 hingga 3.280.
Pasar Menunggu Titik Keseimbangan
Pergerakan saham saat ini menunjukkan pola yang serupa. Tekanan jual memang belum sepenuhnya hilang, tetapi permintaan mulai muncul secara bertahap di beberapa sektor. Pada awal pekan, pasar kemungkinan bergerak hati-hati. Pelaku pasar akan melihat apakah IHSG mampu bertahan di area support atau justru melanjutkan pelemahan. Dalam kondisi ini, kekuatan volume dan ketahanan harga di level support akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.***









