Merangin, oegopost.id – Suasana ceria mewarnai kegiatan sosialisasi edukasi Geopark di SDN 160/VI Pasar Masurai III, Desa Talang Paruh, Kecamatan Lembah Masurai. Dua evaluator UNESCO Global Geopark (UGG) mendadak tersingkir saat menjajal permainan ular tangga edukatif buatan Badan Pengelola (BP) Geopark Merangin-Jambi.
Kedua penilai internasional tersebut yakni Prof. Dr. Yongmun Jeon asal Jeju Island UGG (Korea Selatan) dan Mr. Nicolas Klee asal Monts D’Ardèche UGG (Prancis). Keduanya harus menerima kenyataan keluar dari papan permainan lantaran gagal menjawab pertanyaan pemandu hingga hitungan ketiga.
Nicolas Klee Tersingkir Pertama Di Petak Ketiga
Dalam permainan ini, setiap peserta melangkah sesuai jumlah angka dadu yang mereka lemparkan ke papan permainan. Papan permainan tersebut menyediakan dua tantangan utama, yaitu menebak gambar objek wisata atau menjawab pertanyaan seputar potensi Geopark Merangin-Jambi.
Mr. Nicolas Klee menjadi peserta pertama yang harus gugur setelah mendarat di petak nomor tiga. Ia gagal menyebutkan jumlah danau vulkanik yang membentang di puncak Gunung Masurai secara tepat.
“Satu ya? Oh salah? Berapa? Ada tiga? Oh saya tidak tahu,” ujar Nicolas yang langsung memancing gelak tawa seluruh peserta di lokasi.
Ketidaktahuan penilai asal Prancis tersebut membuat ruang kelas langsung dipenuhi riuh tawa para siswa dan guru. Nicolas pun dengan lapang dada melangkahkan kaki keluar dari area papan permainan ular tangga tersebut.
Prof Yongmun Bertahan Hingga Soal Materi Adat
Sementara itu, Prof. Yongmun Jeon menunjukkan ketahanan yang lebih baik dengan melompati dua tantangan awal. Pakar geologi ini menjawab dengan tepat pertanyaan pertama mengenai usia fosil kayu Merangin yang mencapai ratusan juta tahun.
Nicolas sempat berseloroh menyela jawaban rekannya tersebut untuk mencairkan suasana di dalam ruangan. “Bukan, jawabannya spesifik 396 juta tahun,” potong Nicolas yang kembali memicu gelak tawa penonton.
Pada tantangan kedua, Prof. Yongmun berhasil menjelaskan proses pembentukan batuan Merangin melalui aktivitas vulkanik dan sedimentasi. Keahlian latar belakang geologinya membantu dirinya melewati tantangan tersebut dengan sangat mudah dan meyakinkan.
Namun, langkah Prof. Yongmun akhirnya terhenti pada pertanyaan ketiga mengenai masyarakat adat pengelola hutan konservasi. Ia tidak mampu menyebutkan nama kelompok masyarakat adat yang mendapat pengakuan dunia tersebut hingga hitungan ketiga selesai.
“Kenapa pertanyaannya sulit sekali? Saya tidak bisa menjawab. Apa jawabannya?” tanya Yongmun polos usai dinyatakan gugur dari permainan.
Pemandu permainan sekaligus guru SDN 160/VI Pasar Masurai III, Siti Novia Wati, langsung memberikan jawaban yang benar. Ia menjelaskan kepada seluruh hadirin bahwa jawaban tepat untuk pertanyaan tersebut adalah Masyarakat Adat Serampas.
Keseruan Siswa Menjajal Kartu Edukasi Geopark Merangin
Selain permainan ular tangga, kedua evaluator dunia ini juga menjajal permainan kartu edukasi Geopark. Dalam sesi ini, para siswa berlomba menghafal 24 karakter kartu yang berisi istilah dan penjelasan lengkap seputar kawasan Geopark Merangin-Jambi.
Para siswa saling beradu cepat menebak dan mencocokkan kartu yang dibacakan oleh pemandu acara. Peserta yang paling cepat dan akurat mencocokkan kartu berhasil keluar sebagai pemenang dalam kompetisi interaktif tersebut.
Seluruh rangkaian kegiatan edukasi interaktif ini ditutup dengan sesi foto bersama di halaman sekolah. Para evaluator UNESCO mengabadikan momen hangat tersebut bersama jajaran pengelola Geopark Merangin-Jambi, para guru, serta seluruh siswa SDN 160/VI Pasar Masurai III.(ar)









