Dolar Tembus Rp18 Ribu, UMKM Tempe di Jambi Tertekan Akibat Harga Kedelai Naik

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bisnis Tempe Asli HB Milik Dedeng di Kota Jambi ( poto : tribunjambi.com )

Bisnis Tempe Asli HB Milik Dedeng di Kota Jambi ( poto : tribunjambi.com )

Jambi, oegopost.id – Dampak lonjakan dolar terhadap pengrajin tempe di Jambi mulai terasa ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat menembus Rp18.000. Kondisi ini langsung meningkatkan biaya produksi UMKM pangan, terutama perajin tempe yang bergantung pada kedelai impor.

Di Kota Jambi, tekanan paling besar dirasakan perajin tempe di kawasan Rajawali, Kecamatan Jambi Timur. Mereka menghadapi kenaikan harga bahan baku yang terus naik sejak beberapa bulan terakhir.

Ketergantungan Kedelai Impor Tekan Perajin

Perajin tempe di Jalan Fatahillah, Kelurahan Rajawali, Fauzan Mahbub, menjelaskan seluruh bahan baku usahanya berasal dari kedelai impor. Ia membeli bahan baku menggunakan dolar AS sehingga setiap perubahan kurs langsung memengaruhi biaya produksi.

“Seratus persen kedelai impor dari Amerika Latin. Tidak ada kedelai lokal,” kata Fauzan.

Ia menilai kondisi ini membuat usaha tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Ketika dolar naik, harga kedelai langsung ikut naik di tingkat perajin.

Harga Kedelai Naik Sejak 2025

Fauzan mencatat harga kedelai naik bertahap sejak Agustus 2025. Harga yang sebelumnya berada di sekitar Rp9.000 per kilogram kini naik menjadi Rp12.000 per kilogram.

Ia menyebut kenaikan tersebut mencapai sekitar 60 persen dalam kurang dari satu tahun. Kenaikan dolar mempercepat lonjakan harga bahan baku di lapangan.

Dampak perubahan kurs juga tidak langsung terasa. Perajin baru merasakan efeknya setelah sekitar 15 hari, saat stok lama habis dan pembelian baru mengikuti harga pasar terkini.

Baca Juga :  Harga TBS Sawit Dharmasraya 15 Juni 2026: Selisih Harga Antar PKS Capai Rp394 per Kg

Untuk menjaga usaha tetap berjalan, sebagian perajin tidak langsung menaikkan harga jual. Mereka menyesuaikan ukuran tempe agar tetap terjangkau oleh konsumen.

“Biasanya kami tidak langsung naikkan harga, tapi kami kecilkan ukuran,” ujar Fauzan.

Ia menegaskan batas tekanan biaya sudah semakin ketat. Jika harga kedelai mencapai Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram, pelaku usaha tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual.

Produksi Besar dan Jangkauan Pasar Luas

Usaha tempe milik Fauzan mempekerjakan 10 orang tenaga kerja. Ia mengolah sekitar 500 kilogram kedelai setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar.

Ia mengirim produk tempe ke berbagai wilayah, termasuk Kota Jambi, Kabupaten Batang Hari, hingga Bayung Lencir di Sumatera Selatan.

Fauzan menilai gejolak ekonomi global tidak hanya memukul industri besar. Ia merasakan dampaknya langsung pada pelaku usaha kecil yang memiliki ketergantungan bahan baku impor.

Dampak Juga Menyentuh UMKM Lain

Kenaikan dolar sejak April–Mei 2026 juga memengaruhi UMKM lain di Kota Jambi. Harga kemasan plastik naik hingga 60–80 persen.

Rahma, pedagang es buah sop di kawasan Mayang, mengganti jenis kemasan untuk menekan biaya operasional. Ia beralih dari kotak plastik ke kantong plastik bening.

Baca Juga :  Belanja Pemerintah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal I-2026

Perubahan itu menurunkan omzet hariannya sekitar 10 persen. Ia kini hanya memperoleh Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari, dari sebelumnya sekitar Rp500 ribu.

Pedagang kopi di Kota Baru, Oki, juga merasakan kenaikan harga bahan kemasan. Ia masih menggunakan stok lama, tetapi sudah bersiap menghadapi kenaikan harga berikutnya.

Para pedagang kecil menghadapi dilema antara menaikkan harga atau mengurangi porsi produk. Kedua pilihan itu sama-sama berisiko menurunkan minat pembeli.

Ekonom Sebut “Ilusi Kemakmuran”

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi, Haryadi, menilai penguatan dolar memberi keuntungan jangka pendek bagi daerah penghasil komoditas ekspor.

Namun, ia menegaskan kenaikan pendapatan ekspor sering diikuti lonjakan biaya produksi. Kondisi ini membuat manfaat ekonomi tidak bertahan lama.

Ia menyebut fenomena ini sebagai ilusi kemakmuran. Nilai ekspor naik, tetapi biaya hidup dan produksi juga ikut meningkat lebih cepat.

“Ekonomi terlihat tumbuh, tetapi kesejahteraan tidak ikut naik,” ujarnya.

Dorongan Hilirisasi Ekonomi Daerah

Haryadi menekankan pentingnya hilirisasi untuk memperkuat ekonomi daerah. Ia mendorong pengolahan komoditas seperti sawit dan karet agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

Ia juga mendorong penguatan sektor industri, jasa, dan ekonomi kreatif untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi global.

Menurutnya, ekonomi daerah akan lebih tahan jika mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemberdayaan Perempuan Desa Mengupeh Lewat Batik Lipe
Pemkab Tanjabbar Siap Fasilitasi Pasar Produk Ecoprint Kuala Dasal ke Jaringan Luar
Lindungi Karya Lokal, Kemenkum Jambi Pacu Daya Saing UMKM Bungo
Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Serempak di Akhir Pekan
Pertamina EP Jambi Sukses Lakukan Monetisasi Gas Lapangan Sengeti Senilai Rp1,6 Triliun
Kanwil DJPb Jambi Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Digitalisasi
Polda Jambi Komitmen Amankan Operasional Hulu Migas Regional
Hari Koperasi Nasional ke-79: SAH Sebut Koperasi Motor Penggerak Ekonomi Daerah
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:30 WIB

Pemberdayaan Perempuan Desa Mengupeh Lewat Batik Lipe

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:00 WIB

Pemkab Tanjabbar Siap Fasilitasi Pasar Produk Ecoprint Kuala Dasal ke Jaringan Luar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:30 WIB

Lindungi Karya Lokal, Kemenkum Jambi Pacu Daya Saing UMKM Bungo

Sabtu, 18 Juli 2026 - 14:46 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Serempak di Akhir Pekan

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:00 WIB

Pertamina EP Jambi Sukses Lakukan Monetisasi Gas Lapangan Sengeti Senilai Rp1,6 Triliun

Berita Terbaru