Kerinci, oegopost.id – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat) menurunkan tim lapangan setelah menerima laporan kemunculan harimau sumatra liar di Desa Ujung Ladang, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. Warga melaporkan melihat satwa tersebut melintas di sekitar area ladang.
Tim langsung bergerak ke lokasi begitu menerima informasi dari masyarakat. Petugas kemudian menyisir kawasan yang warga sebut sebagai titik kemunculan satwa liar tersebut.
Tim Lapangan Tidak Menemukan Jejak Harimau
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I BBTNKS, David, menjelaskan tim turun ke lokasi pada 4 Juni. Ia menyebut tim fokus memverifikasi laporan warga secara langsung di lapangan.
Petugas memeriksa seluruh area yang dilaporkan warga sebagai lokasi kemunculan harimau. Tim mencari jejak kaki, cakaran, atau tanda lain yang biasa ditinggalkan satwa besar tersebut.
Namun tim tidak menemukan jejak maupun tanda keberadaan harimau di lokasi itu. Tim kemudian melanjutkan pemantauan untuk memastikan kondisi tetap aman.
BBTNKS langsung berkoordinasi dengan BKSDA Jambi untuk memperkuat penanganan laporan tersebut. Kedua instansi menyusun langkah pemeriksaan bersama di lapangan.
Tim gabungan merencanakan verifikasi ulang di lokasi yang sama untuk memastikan kebenaran informasi dari warga. Kedua lembaga juga mempercepat komunikasi agar respons di lapangan berjalan lebih efektif.
BBTNKS menegaskan koordinasi ini penting untuk menjaga keselamatan warga sekaligus memastikan pengelolaan satwa liar berjalan sesuai prosedur konservasi.
Imbauan: Warga Hindari Beraktivitas Sendirian
BBTNKS meminta warga Desa Ujung Ladang dan sekitarnya mengurangi aktivitas berladang untuk sementara waktu. Jika warga tetap beraktivitas, BBTNKS meminta mereka tidak pergi sendirian.
Petugas mendorong warga bekerja berkelompok dengan minimal dua orang atau lebih. Cara ini membantu meningkatkan keamanan saat berada di area yang berpotensi di lalui satwa liar.
BBTNKS juga meminta warga mengatur waktu kerja di ladang. Warga harus kembali sebelum sore hari agar tidak beraktivitas dalam kondisi gelap.
Petugas juga meminta warga membawa alat yang dapat menghasilkan suara saat berada di kebun. Bunyi tersebut membantu mengurangi kemungkinan satwa liar mendekat secara tiba-tiba.
David berharap satwa yang di laporkan warga hanya melintas di kawasan tersebut. Ia juga menyebut kemungkinan satwa mengikuti pergerakan hewan mangsa di sekitar lokasi.
Warga sebelumnya melaporkan keberadaan rombongan babi hutan yang melintas di area yang sama. Kondisi itu memperkuat dugaan bahwa predator hanya mengikuti pergerakan mangsanya.(ar)









