Tebo, oegopost.id – Ibu-ibu PKK Desa Mengupeh kini aktif memproduksi kerajinan tradisional setelah mengikuti pelatihan membatik Desa Mengupeh pada Rabu (15/7/2026). Mereka memanfaatkan sebuah sanggar di samping kantor desa untuk menorehkan lilin cair di atas kain putih.
Kegiatan ini melahirkan Batik Lipe yang menjadi ikon baru sekaligus sumber penghidupan warga di Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo. Para perempuan setempat optimistis produk eksklusif tersebut mampu merepresentasikan keunikan daerah mereka secara luas.
Kolaborasi Strategis Dongkrak Kesejahteraan Ekonomi Warga
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Mengupeh, Pariati, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan nyata dari berbagai pihak eksternal. SKK Migas bersama MontD’Or Oil Tungkal Limited memfasilitasi bimbingan teknis ini demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Pariati berharap program pemberdayaan perempuan tersebut dapat menunjang perekonomian keluarga secara berkelanjutan. Langkah ini sekaligus bertujuan mengenalkan karya lokal agar masyarakat luas menangkap keunikan motif tradisional khas desa.
Seorang kader PKK bernama Intan turut merasakan manfaat besar dari pembekalan materi yang sangat aplikatif bagi pemula. Ia menilai program kemitraan kali ini menyajikan materi yang jauh lebih mendalam ketimbang kegiatan sebelumnya.
Intan mengucapkan terima kasih karena pelatihan ini membuka peluang baru dalam menambah pendapatan bulanan warga. Seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi untuk segera memasarkan hasil karya mandiri mereka ke pasar potensial.
Transformasi Kain Putih Menjadi Komoditas Unggulan Daerah
Peserta lain bernama Marlina Mutiara mengaku mendapat kepuasan emosional saat berhasil mengubah kain putih polos menjadi batik bernilai jual tinggi. Sebagai anggota rombongan baru, ia merasa terbantu oleh metode praktik langsung yang diterapkan instruktur pendamping.
Marlina mengapresiasi pemerintah desa dan manajemen perusahaan migas yang membimbing para perajin dari nol. Pemahaman taktis mengenai rantai nilai produksi kerajinan ini mengubah cara pandang mereka terhadap nilai ekonomis sebuah karya seni.
Fokus pengajaran kali ini menitikberatkan pada tata cara pembuatan pola gambar, mencetak, hingga proses pewarnaan kain yang efisien. Para peserta mengutamakan penataan pola agar visualisasi kearifan lokal tecermin kuat pada setiap helai kain.
Ibu-ibu PKK bahkan memendam impian besar agar kelak seluruh kader dapat mengenakan busana hasil karya sendiri. Kebebasan berekspresi dalam mendesain motif menjadi motivasi tambahan yang memicu kreativitas komunitas perempuan tersebut.
Inovasi Teknik Kombinasi Percepat Proses Balik Modal
Pemateri pelatihan dari usaha Batik Tebo Riski Danang, Upkha Arkya Satria Pradana, memaparkan metode modern yang ia terapkan. Pria yang akrab disapa Danang ini mengombinasikan teknik batik cap Tebo dengan batik tulis tradisional.
Danang memperbarui metode penataan pola agar produk akhir terlihat lebih rapi dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Langkah kolaboratif tersebut sengaja ia rancang untuk memberikan karakteristik unik yang membedakan Batik Lipe dengan produk lain.
Ia juga memilih zat pewarna khusus jenis Remasol untuk menjamin mutu warna agar terlihat tajam dan memikat pembeli. Penggunaan bahan baku berkualitas ini terbukti mempermudah proses pengerjaan bagi para perajin pemula di sanggar.
Danang membagikan strategi bisnis yang merangkum berbagai teknik sukses dari pusat-pusat industri batik di Pulau Jawa. Formula bisnis tersebut sengaja dirancang agar pelaku usaha mikro dapat memperoleh keuntungan dan balik modal lebih cepat.
Ia optimistis usaha kerajinan di Desa Mengupeh memiliki prospek cerah karena proses produksinya kini jauh lebih simpel. Kemudahan proses pembuatan dan kecepatan pemasaran menjadi kunci utama untuk menembus pasar kabupaten hingga daerah luar.(ar)









