Jambi, oegopost.id – Provinsi Jambi membuka peluang besar untuk masuk ke pasar karbon global melalui implementasi program BioCarbon Fund Initiative for Sustainable Forest Landscapes (BioCF-ISFL) yang didukung Bank Dunia.
Pemerintah daerah melihat program ini sebagai langkah strategis untuk menciptakan sumber pendapatan baru berbasis lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani menyampaikan hal tersebut saat menghadiri closing meeting penerusan hibah fase prainvestasi BioCF-ISFL tahun 2022–2026 di Kota Jambi, Senin.
Program BioCF-ISFL Dorong Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Pemerintah Provinsi Jambi menjalankan BioCF-ISFL sebagai program global yang mendorong pengelolaan lahan hutan secara berkelanjutan dengan pendekatan terpadu.
Program ini tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga menghubungkan konservasi dengan manfaat ekonomi masyarakat.
Abdullah Sani menegaskan bahwa program ini mengubah cara pandang pembangunan. Ia menyebut menjaga hutan kini tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Potensi Ekonomi Karbon Capai 70 Juta Dolar AS
Pemerintah Provinsi Jambi menghitung potensi pendapatan dari skema BioCF-ISFL mencapai sekitar 70 juta dolar AS.
Angka ini berasal dari target penurunan emisi sebesar 10 juta ton COe dengan asumsi harga karbon 7 dolar AS per ton COe. Bahkan, pemerintah menilai nilai tersebut masih bisa meningkat.
Masyarakat Jadi Penerima Manfaat Langsung
Pemerintah daerah menyalurkan manfaat ekonomi program ini langsung kepada masyarakat. Petani dan warga sekitar hutan akan menerima insentif, pengembangan sistem agroforestry, serta peluang usaha baru di sektor ekowisata dan ekonomi hijau.
Program ini juga mendorong tumbuhnya usaha berbasis lingkungan yang lebih berkelanjutan dan inklusif.
Jambi Siap Jadi Percontohan Nasional
Abdullah Sani menilai Jambi memiliki peluang besar menjadi daerah percontohan dalam penerapan penurunan emisi berbasis kinerja di Indonesia.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan dalam menjaga keseimbangan antara lingkungan dan ekonomi.
Pemerintah Provinsi Jambi juga menempatkan agenda penurunan emisi dan pengelolaan lanskap berkelanjutan sebagai bagian utama dari arah pembangunan daerah, bukan sekadar program sektoral.
Kekuatan Sumber Daya Hutan Jadi Modal Utama
Jambi memiliki lebih dari 2,1 juta hektare kawasan hutan dan lahan yang mencakup ekosistem gambut serta mangrove.
Kedua ekosistem ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menyerap emisi karbon.
Pemerintah daerah menyebut kontribusi Jambi mencapai sekitar 10 persen dari target nasional penurunan emisi melalui berbagai program yang didukung pembiayaan daerah dan hibah internasional.(ar)









