Jakarta, oegopost.id – Jumlah pengguna kecerdasan buatan generatif (generative AI) di seluruh dunia melonjak tajam dalam satu tahun terakhir. Laporan terbaru bertajuk Digital 2027 Global Overview Report mencatat angka pemakai teknologi ini sudah menembus 3,24 miliar akun.
Pencapaian tersebut mencakup sekitar 38,9 persen populasi dunia. Artinya, lebih dari satu dari tiga orang di planet ini rutin mengakses layanan berbasis Large Language Models (LLM) setiap bulannya.
Lonjakan ini terjadi secara masif sejak akhir tahun lalu. Lembaga analisis Manochi mencatat penambahan 1,2 miliar pengguna baru sejak Oktober 2025 hingga Oktober 2026, yang mencerminkan lonjakan pertumbuhan hingga 57,2 persen.
Sebagai pembanding, total pengguna internet global pada periode yang sama menyentuh 6,15 miliar orang. Hal ini menandakan bahwa mayoritas pengguna internet kini telah mengadopsi alat bantu berbasis kecerdasan buatan dalam aktivitas digital mereka sehari-hari.
China menjadi salah satu penyumbang lonjakan terbesar. Pusat Informasi Jaringan Internet China (CNNIC) mengonfirmasi penambahan 150 juta pengguna baru dalam 12 bulan terakhir, sehingga total pemakai kecerdasan buatan generatif di negara tersebut melampaui 700 juta orang.
Dominasi ChatGPT dan Lonjakan Pengguna Gemini
ChatGPT besutan OpenAI masih memimpin peta persaingan sebagai platform terbesar dunia. Data Similarweb dan survei GWI menunjukkan lebih dari 1,1 miliar pengguna internet berusia 16 tahun ke atas aktif memakai ChatGPT setiap bulan.
Meski demikian, para pesaing utama terus memangkas jarak secara agresif. Google Gemini mencatatkan kenaikan pengguna aplikasi lebih dari empat kali lipat dalam setahun terakhir.
Bahkan pada Agustus 2026, basis pengguna aplikasi Gemini melonjak hingga 23 kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2024. Versi web platform ini bahkan sudah mengait lebih dari 60 persen basis pengguna aktif ChatGPT.
Aplikasi Claude buatan Anthropic juga mencetak rekor pertumbuhan pesat. Jumlah pengguna aktif bulanan Claude pada Agustus 2026 meroket 17 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Kehadiran platform-platform ini mengubah lanskap penggunaan internet global secara fundamental. Pengguna kini tidak hanya mengandalkan mesin pencari konvensional, tetapi juga beralih ke asisten pintar untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan teknis maupun harian.
Motivasi Pengguna dan Dampaknya terhadap Situs Web
Mayoritas masyarakat dunia memanfaatkan alat pintar ini untuk mempermudah pekerjaan harian. Hasil riset GWI mengungkapkan 60,4 persen responden menggunakan AI untuk mencari informasi secara cepat dan rinci.
Alasan kedua yang paling umum adalah berkonsultasi mengenai solusi masalah (40,6 persen), disusul keinginan belajar serta meningkatkan keterampilan baru (38,4 persen). Sementara itu, lebih dari seperempat responden memakai platform tersebut sekadar mencari hiburan.
Masifnya penggunaan kecerdasan buatan ini berdampak langsung pada trafik lalu lintas web global. Total kunjungan ke 10.000 situs web teratas dunia mengalami penurunan lebih dari 10 persen sejak ChatGPT meluncur secara publik.
Masyarakat Indonesia menunjukkan respons yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi ini. Laporan mencatat 47,2 persen pengguna internet di Indonesia meyakini kehadiran AI membawa dampak positif bagi kehidupan bermasyarakat.
Angka penerimaan di Indonesia ini jauh melampaui tingkat optimisme di kawasan Amerika Serikat dan Eropa. Di kedua wilayah Barat tersebut, kurang dari 25 persen pengguna internet dewasa yang memandang dampak teknologi ini secara positif.
Meskipun adopsi AI terus meningkat, masyarakat belum sepenuhnya menyerahkan keputusan penting kepada mesin. Dalam urusan riset produk atau merek, mayoritas konsumen tetap memilih mesin pencari konvensional ketimbang mengandalkan jawaban dari platform pintar.(ar)









