Jambi, oegopost.id – Pemerintah Provinsi Jambi menggelar Salat Istisqa Pemprov Jambi di Lapangan Garuda kompleks Kantor Gubernur Jambi pada Rabu pagi. Ribuan warga bersama jajaran pejabat daerah berkumpul memohon penurunan hujan di tengah kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
Selanjutnya, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arifin Jambi Dr KH Zainul Arifin memimpin langsung jalannya ibadah dengan penuh khidmat. Gubernur Jambi Al Haris dan Wakil Gubernur Abdullah Sani juga menghadiri kegiatan keagamaan ini secara langsung bersama masyarakat.
Selain itu, sejumlah pejabat daerah, jajaran Forkopimda, Aparatur Sipil Negara, serta alim ulama memadati area lapangan sejak pagi hari. Oleh karena itu, mereka bersama-sama melantunkan doa ikhtiar meminta pertolongan Tuhan agar bencana kekeringan ini segera berakhir.
Kemudian, Gubernur Al Haris menegaskan bahwa pelaksanaan doa bersama ini menjadi bentuk kepasrahan dan usaha seluruh elemen masyarakat. Sebab, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, kondisi musim kemarau ekstrem ini akan berlangsung hingga Oktober mendatang.
Kendala Hujan Buatan Dan Upaya Penanganan Musim Kemarau
Meskipun demikian, pemerintah daerah telah menempuh berbagai cara teknis untuk memicu datangnya presipitasi di wilayah terdampak. Salah satu langkah nyata mencakup penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca guna menghasilkan hujan buatan secara berkala.
Namun, tim teknis menghadapi hambatan besar di lapangan karena ketersediaan awan potensial sangat minim. Oleh sebab itu, tim udara tetap mengerahkan pesawat terbang dan helikopter pengebom air untuk mendukung penanganan kondisi darurat.
Bahkan, Gubernur Al Haris menjelaskan bahwa curah hujan beberapa hari lalu merupakan hasil rekayasa cuaca yang masih sangat terbatas. Akibatnya, tim teknis sulit menemukan bintik awan hujan sehingga volume air yang turun belum membasahi wilayah Jambi secara merata.
Oleh karena itu, pemerintah beserta warga berharap Tuhan menurunkan hujan alami dari langit secara melimpah. Dengan demikian, guyuran air hujan tersebut dapat mengembalikan kesuburan lahan pertanian warga yang kini mengering.
Dampak Buruk Kualitas Udara Dan Melonjaknya Kasus ISPA
Sementara itu, dampak musim kemarau panjang mulai mengancam sektor kesehatan masyarakat di berbagai wilayah kabupaten dan kota. Hasilnya, laporan resmi dari dinas terkait mencatat jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut telah mendekati angka 6.000 kasus.
Selain itu, penurunan kualitas udara akibat debu dan kabut asap memicu pemerintah untuk mengambil langkah antisipasi cepat. Akhirnya, sejumlah sekolah terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh dari rumah untuk meminimalkan risiko paparan udara beracun.
Kebijakan pengalihan sistem belajar ini bertujuan melindungi para siswa serta tenaga pengajar dari bahaya pencemaran udara. Sebab, kondisi atmosfer yang kian memburuk memicu kekhawatiran meluasnya gangguan kesehatan pada kelompok anak-anak.
Oleh karena itu, Gubernur Al Haris mengajak seluruh lapisan warga agar memperbanyak doa secara khusyuk. Pada akhirnya, beliau berharap hujan deras dapat menjadi rahmat yang memulihkan lingkungan serta melestarikan seluruh makhluk hidup.(ar)









