Sungai Penuh, oegopost.id – Kelangkaan BBM Bio Solar kembali terjadi di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Kondisi ini memicu keresahan warga. Kelangkaan BBM Bio Solar berdampak pada aktivitas transportasi dan distribusi barang.
Warga mengaku kesulitan mendapatkan BBM subsidi di SPBU. Mereka juga melihat antrean kendaraan semakin panjang setiap hari.
Warga Soroti Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi
Warga menduga kelangkaan tidak hanya karena pasokan terbatas. Mereka menilai ada penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan. Karena itu, mereka meminta aparat bertindak lebih tegas.
Masyarakat meminta Kepolisian Resor Kerinci turun langsung mengawasi distribusi BBM. Mereka juga meminta pengawasan SPBU diperketat.
Warga menyoroti beberapa dugaan praktik di lapangan. Antara lain penggunaan barcode berulang dan antrean kendaraan yang tidak wajar. Mereka menilai hal ini memperburuk kondisi kelangkaan.
Kasus serupa pernah terjadi pada tahun 2022. Polisi saat itu menggerebek sebuah gudang di wilayah Kerinci.
Petugas menemukan ratusan jeriken BBM Bio Solar. Mereka juga menemukan ratusan dus rokok ilegal dan pupuk subsidi.
Polisi menyita beberapa kendaraan dalam operasi tersebut. Barang bukti meliputi dump truck, mobil L300, dan satu truk. Seluruhnya di bawa ke Mapolres Kerinci.
Namun warga menilai kasus tersebut belum tuntas sepenuhnya. Mereka menyebut aktivitas serupa masih muncul di beberapa lokasi.
Dugaan Keterlibatan Oknum Jadi Sorotan
Di masyarakat beredar dugaan adanya keterlibatan oknum berinisial VK. Oknum tersebut disebut terkait aktivitas penimbunan BBM. Namun informasi ini masih berupa dugaan di lapangan.
Warga meminta aparat tidak hanya fokus pada pelaku kecil. Mereka juga meminta penelusuran jaringan yang lebih luas.
Masyarakat menilai transparansi penanganan kasus sangat penting. Hal ini untuk menjaga kepercayaan publik terhadap aparat hukum.
Warga Kerinci dan Sungai Penuh meminta pengawasan distribusi BBM diperketat. Mereka ingin BBM subsidi tepat sasaran.
Mereka juga meminta pengawasan SPBU di lakukan lebih ketat setiap hari. Hal ini untuk mencegah antrean fiktif dan penyalahgunaan barcode.
Selain itu, warga menyoroti maraknya peredaran barang ilegal di wilayah tersebut. Mereka berharap aparat bertindak tegas tanpa pandang bulu.(ar)









