Bungo, oegopost.id – Seorang tenaga pendidik di Pondok Pesantren Nurul Islam menerapkan metode edukatif untuk mendisiplinkan para peserta didik pada Rabu (12/8/2026). Selain itu, Ustadz Qodri memberikan hukuman sholat dhuha santri yang terbukti melanggar aturan dengan tidak menghadiri kegiatan apel pagi.
Langkah tersebut menjadi alternatif pembinaan karakter yang berfokus pada pendekatan spiritual dibanding tindakan fisik. Oleh sebab itu, pihak pesantren memilih media ibadah sunnah agar anak didik dapat memperbaiki kesalahan secara bijak.
Upaya Mendekatkan Diri Santri Kepada Allah SWT
Selanjutnya, Ustadz Qodri menegaskan bahwa pemberian sanksi di lingkungan pesantren berorientasi penuh pada pembentukan akhlak mulia. Bahkan, pendidik tersebut mengharapkan para pelanggar kedisiplinan dapat mengambil hikmah positif dari setiap konsekuensi yang mereka terima.
Sebab, pengurus pondok pesantren meyakini bahwa pendekatan berbasis ibadah ini sangat efektif mempererat hubungan hamba dengan Sang Pencipta. Dengan demikian, langkah edukatif ini sekaligus menghapus kesan menakutkan yang sering melekat pada setiap bentuk sanksi kedisiplinan.
Mendidik Santri Tanpa Menimbulkan Rasa Takut Fisik
Proses pendisiplinan anak sejatinya bertujuan untuk membentuk kebiasaan baik yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Karena itu, pengajar pesantren Nurul Islam mengarahkan para siswa agar menyadari pentingnya menjalankan aturan secara sukarela tanpa paksaan.
Namun, pendidik tetap menghindarkan penggunaan hukuman fisik yang berpotensi menimbulkan rasa trauma maupun rasa takut berlebih pada anak. Sebaliknya, pihak lembaga pendidikan lebih menekankan pentingnya membangun kesadaran personal dalam menjaga setiap nilai kebaikan.
Menanamkan Kesadaran Dan Rasa Takut Kehilangan Kebaikan
Di samping itu, pihak pesantren mendorong para santri untuk memahami makna kebaikan secara mendalam melalui pembiasaan ibadah harian. Hasilnya, evaluasi kedisiplinan ini berfokus pada upaya menumbuhkan kepedulian terhadap aturan dan kewajiban santri.
Oleh karena itu, Ustadz Qodri berharap metode ini mampu mengubah pola pikir santri saat menghadapi aturan di lingkungan pondok. Pada akhirnya, tenaga pengajar terus konsisten mendampingi santri agar senantiasa menjaga kebiasaan positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, sistem pembinaan positif ini membuktikan bahwa penegakan aturan di lembaga pendidikan dapat berjalan dengan sangat harmonis. Maka dari itu, pihak pengelola pondok percaya bahwa metode edukatif ini mampu mencetak generasi yang taat dan bertakwa.(ar)









