Tebo, oegopost.id – Kasus pengeroyokan siswa SMP di SMPN 22 Tebo menarik perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Tebo. Dinas langsung mengirim tim untuk mengecek kejadian yang melibatkan siswa kelas 8 dan sejumlah siswa kelas 9 itu.
Peristiwa tersebut terjadi saat jam istirahat sekolah. Konflik antarsiswa di duga bermula dari status WhatsApp dan percakapan di media sosial yang memicu kesalahpahaman.
Sekretaris Dikbud Tebo, Supriadi, mengatakan pihak sekolah segera menangani kejadian setelah menerima laporan dari siswa dan guru.
Guru Sedang Rapat Saat Kejadian
Menurut Supriadi, pengeroyokan terjadi di belakang sekolah ketika para guru mengikuti rapat persiapan ujian kelas 9.
“Guru-guru sedang rapat membahas ujian kelas 9 saat kejadian berlangsung,” ujar Supriadi.
Keributan antarpelajar itu berlangsung saat suasana sekolah cukup lengang. Setelah mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah langsung memanggil siswa yang terlibat.
Sekolah mencatat sembilan siswa sebagai pelaku dan lima siswa sebagai korban dalam kasus itu.
Konflik Berawal dari Media Sosial
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan konflik bermula dari unggahan status WhatsApp dan percakapan pribadi antar siswa.
Beberapa pelaku mengaku tersinggung dengan isi status dan chat korban. Perselisihan itu kemudian berlanjut di lingkungan sekolah hingga memicu aksi pengeroyokan.
“Masalah muncul karena status WhatsApp dan chatting yang membuat pelaku emosi,” jelas Supriadi.
Kasus ini menunjukkan bahwa konflik kecil di media sosial bisa berubah menjadi tindakan kekerasan jika siswa tidak mampu mengendalikan emosi.
Sekolah Langsung Mediasi
Pihak sekolah langsung mempertemukan para siswa setelah kejadian berlangsung. Guru dan pihak sekolah mencoba menyelesaikan masalah lewat mediasi agar situasi tidak semakin panas.
Pada Sabtu lalu, sekolah kembali mengundang orang tua siswa untuk membahas penyelesaian masalah tersebut.
Namun, salah satu orang tua korban menolak hasil mediasi yang sekolah tawarkan.
“Ada orang tua korban yang belum menerima hasil mediasi,” kata Supriadi.
Sekolah sebenarnya menjadwalkan mediasi lanjutan pada Senin. Akan tetapi, keluarga korban lebih dulu melapor ke Polres Tebo sebelum pertemuan berlangsung.
Dikbud Belum Tentukan Sanksi
Dikbud Tebo belum mengambil keputusan soal sanksi untuk siswa maupun pihak sekolah. Saat ini, dinas masih mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.
Supriadi mengatakan pihaknya akan berdiskusi bersama pengawas sekolah dan bidang pendidikan dasar sebelum menentukan langkah selanjutnya.
“Kami masih membahas penanganan kasus ini bersama pihak terkait,” ujarnya.
Dikbud juga ingin memastikan sekolah tetap memberi pendampingan kepada siswa agar proses belajar tidak terganggu.
Jadi Perhatian Dunia Pendidikan
Kasus pengeroyokan pelajar seperti ini kembali mengingatkan pentingnya pengawasan di lingkungan sekolah. Guru dan orang tua perlu lebih aktif memantau pergaulan siswa, termasuk aktivitas mereka di media sosial.
Selain itu, sekolah juga perlu memperkuat pendidikan karakter agar siswa mampu menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Banyak warga berharap kasus di SMPN 22 Tebo menjadi pelajaran bagi semua pihak supaya kejadian serupa tidak terulang lagi.(ar)









