Teater TUR Jambi Pentaskan ANU Karya Putu Wijaya, Angkat Tonel Tebat Patah Sebagai Peristiwa Sosial

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teater TUR Jambi ANU menjadi tajuk pertunjukan yang digelar di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Sabtu, 27 Juni 2026.( poto : bicarajambi.com )

Teater TUR Jambi ANU menjadi tajuk pertunjukan yang digelar di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Sabtu, 27 Juni 2026.( poto : bicarajambi.com )

Jambi, oegopost.id – Teater TUR Jambi ANU menjadi tajuk pertunjukan yang digelar di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Sabtu, 27 Juni 2026. Pementasan naskah ANU karya Putu Wijaya tersebut merupakan hasil Program Pelatihan Tahunan bertajuk Kultur Lentur yang melibatkan proses pembelajaran sekaligus eksplorasi artistik.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi. Pendanaan berasal dari DAK Nonfisik BOP Museum dan Taman Budaya Tahun 2026 yang dikelola sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip akuntabilitas.

Pendekatan Performativitas Hadir Melalui Tradisi Tonel Tebat Patah Lokal

Pertunjukan ANU mengusung pendekatan performativitas yang merujuk pada gagasan Richard Schechner. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada tindakan, energi, dan pengalaman yang tercipta secara langsung di ruang pertunjukan, bukan semata-mata pada kekuatan teks.

Teater TUR Jambi kemudian memadukan konsep tersebut dengan gaya Tonel Tebat Patah. Tradisi pertunjukan rakyat itu dikenal cair, komunikatif, dan memberi ruang luas bagi improvisasi para pemain.

Melalui pendekatan tersebut, pertunjukan tidak hanya menyajikan sebuah lakon. Para aktor juga membangun hubungan langsung dengan penonton melalui tubuh, suara, gerak, dan pengalaman kolektif yang terjadi selama pementasan berlangsung.

Produksi ini meminjam tiga struktur utama dalam Tonel Tebat Patah, yakni Beladun, Bekesah, dan Menyanyi Bersama. Ketiga unsur itu menjadi fondasi penyutradaraan sekaligus memperkuat interaksi antara pemain dan penonton.

Beladun menjadi pembuka pertunjukan. Para pemain memasuki arena dari berbagai arah sambil membawa atribut pasar dan mengelilingi panggung berbentuk tapak kuda.

Baca Juga :  Wali Kota Sungai Penuh Lantik Dewan Pengawas Tirta Khayangan Periode 2026-2030

Adegan tersebut menjadi penanda bahwa pertunjukan tidak sekadar menghadirkan suasana pasar. Beladun juga menggambarkan masyarakat yang terus berusaha membangun ruang hidup di tengah sistem yang membatasi aktivitas mereka.

Setelah itu, pertunjukan memasuki tahap Bekesah. Tradisi bertutur tersebut menghadirkan narator yang mengajak penonton memasuki dunia cerita melalui humor, sindiran, dan iringan musik.

Narator memperkenalkan realitas yang berubah menjadi “ANU”. Penyampaian itu membangun kesadaran bersama mengenai berbagai persoalan sosial yang menjadi tema utama pertunjukan.

Tahapan berikutnya menghadirkan Menyanyi Bersama. Tradisi yang hidup dalam pertunjukan rakyat Melayu tersebut menjadi simbol kebersamaan, solidaritas, dan ruang masyarakat untuk tetap berkumpul serta menyuarakan harapan.

Melalui tiga struktur itu, Teater TUR Jambi menafsirkan ulang naskah karya Putu Wijaya sebagai sebuah peristiwa sosial dan budaya. Pertunjukan pun berkembang menjadi ruang refleksi yang melibatkan seluruh penonton.

Artistik Panggung Simbolkan Sistem Yang Membatasi Kehidupan Masyarakat Modern

Konsep artistik pertunjukan berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan masyarakat tidak berhenti ketika ruang hidup mereka tertutup. Sebaliknya, masyarakat terus mencari cara untuk bertahan, beradaptasi, dan bergerak di tengah berbagai keterbatasan.

Karena itu, panggung menghadirkan pasar sebagai simbol kehidupan sosial. Pasar tidak hanya mewakili aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi ruang interaksi masyarakat sehari-hari.

Di tengah panggung berdiri gerbang pasar yang tertutup lembaran seng. Elemen artistik tersebut menjadi metafora sistem yang bekerja dalam kehidupan sosial, birokrasi, ekonomi, politik, maupun berbagai aturan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Baca Juga :  Nobar Piala Dunia 2026 Jambi Libatkan UMKM, Pemprov Siapkan Dua Lokasi Strategis

Di depan gerbang itu terdapat meja-meja dagangan yang telah diberi tanda silang sebagai simbol penyitaan. Meski demikian, para pedagang tetap hadir dan terus berupaya menjalankan kehidupan.

Kehadiran para pedagang menggambarkan semangat masyarakat yang tidak menyerah pada keadaan. Mereka terus bergerak meski menghadapi berbagai tekanan yang datang dari sistem.

Konsep artistik juga memanfaatkan layar siluet atau shadow screen. Media tersebut menghadirkan dua dunia yang berjalan bersamaan selama pertunjukan berlangsung.

Bagian depan panggung menampilkan kehidupan nyata para pedagang. Sementara itu, layar siluet di belakang memperlihatkan dunia bayangan yang merepresentasikan sistem dan kekuasaan sebagai kekuatan abstrak.

Kontras visual antara ruang nyata dan ruang simbolik memperkuat pesan pertunjukan. Penonton diajak melihat bagaimana sistem hadir tanpa wujud, tetapi tetap memberi dampak terhadap kehidupan masyarakat.

Absurditas Pertunjukan Menguatkan Tafsir Baru Naskah Putu Wijaya Kontemporer

Warna artistik pertunjukan bergerak dari realisme menuju absurditas. Suara yang bertumpuk, gerakan yang berulang, serta percakapan yang kehilangan arah membentuk pengalaman teater yang khas.

Kata “ANU” terus bergema sepanjang pertunjukan. Simbol tersebut terbuka untuk berbagai penafsiran, mulai dari kekuasaan, kebijakan, ketakutan, harapan, hingga kehidupan itu sendiri.

Pendekatan itu sejalan dengan semangat teater Putu Wijaya yang menggunakan absurditas sebagai cara melihat kenyataan dari sudut pandang berbeda. Melalui pilihan artistik tersebut, Teater TUR Jambi menghadirkan pertunjukan yang tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi berkembang menjadi ruang perjumpaan, dialog, dan refleksi bersama mengenai berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nobar Piala Dunia 2026 Jambi Libatkan UMKM, Pemprov Siapkan Dua Lokasi Strategis
Pemkab Merangin Bentuk Tim Terpadu, Kawasan Inti Geopark Merangin Jadi Prioritas Sterilisasi dari PETI
Pemotongan Dana Desa 2026 untuk KDMP Berdampak, Pembangunan Desa di Batang Hari Tertunda
Detik-detik Fajri Tenggelam di Sungai Tembesi, Bocah 8 Tahun Ditemukan Meninggal Setelah Pencarian
Alfin Tetapkan Pimpinan BAZNAS Kota Sungai Penuh Periode 2026–2031
Bus PO Al Hijrah Tabrak Kendaraan Parkir di Tebo, Diduga Hilang Kendali Usai Hantam Trotoar
Mantan Rektor Unja Kemas Arsyad Somad Meninggal, Dunia Pendidikan Jambi Berduka
PHI Tanam 1.000 Mangrove dan Lamun di Pulau Pari untuk Karbon Biru
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 12:00 WIB

Nobar Piala Dunia 2026 Jambi Libatkan UMKM, Pemprov Siapkan Dua Lokasi Strategis

Senin, 6 Juli 2026 - 22:00 WIB

Pemotongan Dana Desa 2026 untuk KDMP Berdampak, Pembangunan Desa di Batang Hari Tertunda

Senin, 6 Juli 2026 - 21:00 WIB

Detik-detik Fajri Tenggelam di Sungai Tembesi, Bocah 8 Tahun Ditemukan Meninggal Setelah Pencarian

Senin, 6 Juli 2026 - 20:50 WIB

Alfin Tetapkan Pimpinan BAZNAS Kota Sungai Penuh Periode 2026–2031

Senin, 6 Juli 2026 - 20:23 WIB

Bus PO Al Hijrah Tabrak Kendaraan Parkir di Tebo, Diduga Hilang Kendali Usai Hantam Trotoar

Berita Terbaru