Jambi, oegopost.id – Proyek laboratorium jambi pembangunan Tahap III Gedung Laboratorium Terpadu di Politeknik Kesehatan Jambi masuk daftar paket besar di lingkungan Kementerian Kesehatan pada tahun anggaran 2026.
Pemerintah menetapkan pagu proyek ini sebesar Rp51 miliar melalui APBN 2026. Dalam transaksi pengadaan, nilai kontrak turun menjadi Rp46.625.188.197 dan pemerintah menetapkan Burniat Indah Karya sebagai penyedia.
Nilai Kontrak Turun dari Pagu
Data pengadaan menunjukkan selisih sekitar Rp4,37 miliar antara pagu dan kontrak. Secara persentase, nilai kontrak mencapai 91,42 persen dari total anggaran yang tersedia.
Meski lebih rendah dari pagu, proyek ini tetap masuk kategori konstruksi bernilai besar. Sistem E-Katalog 6.0 dan metode E-Purchasing memproses pengadaan ini secara digital.
Rencana Umum Pengadaan (RUP) mencatat pemerintah membagi pekerjaan ke beberapa bagian. Tim pelaksana mengerjakan pekerjaan persiapan, struktur bangunan, dan arsitektur secara bertahap.
Pekerjaan juga mencakup mekanikal elektrikal (MEP), landscape, dan hardscape yang mendukung kawasan kampus secara keseluruhan.
Satuan kerja menetapkan volume pekerjaan satu paket dengan target pemanfaatan pada November hingga Desember 2026.
Jadwal Proyek Berjalan Ketat
Panitia pengadaan menjalankan proses pemilihan penyedia pada Maret hingga April 2026. Setelah itu, kontrak mulai berjalan pada Mei 2026 dan ditargetkan selesai pada November 2026.
Pengelola proyek langsung merencanakan pemanfaatan gedung setelah masa kontrak berakhir. Jadwal ini menuntut semua pihak menjaga ketepatan waktu pekerjaan.
Sebagai fasilitas pendidikan kesehatan, gedung laboratorium membutuhkan standar teknis tinggi. Tim perencana menempatkan sistem mekanikal elektrikal sebagai komponen paling kritis.
Instalasi listrik, ventilasi, pencahayaan, dan sistem pendukung laboratorium harus bekerja stabil. Kesalahan kecil dalam perencanaan dapat mengganggu fungsi gedung meskipun konstruksi selesai.
E-Purchasing Jadi Sorotan di Proyek Konstruksi Besar
Panitia pengadaan menggunakan metode E-Purchasing melalui E-Katalog 6.0. Sistem ini mempercepat proses pemilihan penyedia karena semua data tersedia secara digital.
Namun publik tetap mempertanyakan transparansi pemilihan penyedia dalam proyek konstruksi bernilai puluhan miliar. Banyak pihak meminta penjelasan lebih rinci tentang spesifikasi teknis dan proses negosiasi harga.
Dokumen RUP mencatat aspek ekonomi dan lingkungan dalam proyek ini. Namun sistem tidak mencantumkan aspek sosial dalam klasifikasinya.
Meski begitu, pembangunan gedung ini tetap berdampak sosial karena kampus Politeknik Kesehatan Jambi mencetak tenaga kesehatan yang akan bekerja di fasilitas layanan publik.
Pemerintah menetapkan proyek ini tidak masuk kategori usaha kecil atau koperasi karena skala dan kompleksitas pekerjaan.
Publik kemudian menyoroti kinerja Burniat Indah Karya, termasuk pengalaman proyek sebelumnya, kualitas pekerjaan, dan ketepatan waktu penyelesaian.(ar)









