Bungo, oegopost.id – Tender ulang proyek Rekonstruksi Jalan Paket III di Kabupaten Bungo menetapkan CV Azka Jaya Mandiri sebagai pemenang. Proyek ini berada di bawah Dinas PUPR Kabupaten Bungo dengan nilai pagu Rp4.502.864.800 dan HPS Rp4.502.797.615. Pemerintah membiayai proyek ini melalui APBD 2026.
Panitia menggunakan metode tender pascakualifikasi satu file dengan sistem harga terendah gugur tanpa reverse auction. Hingga saat ini, proses masih berada pada tahap masa sanggah.
Ruang Lingkup Pekerjaan Dua Ruas Jalan
Proyek ini mencakup dua ruas jalan di Kabupaten Bungo, yakni Jalan Padang Lalang–Sekampil dan Jalan Rantau Asam–Batu Kerbau. Kedua ruas ini menjadi jalur penting bagi warga untuk mengakses kebun, sekolah, pasar, dan layanan publik.
Karena fungsi strategisnya, masyarakat menaruh perhatian besar terhadap kualitas pekerjaan dan proses pengadaan proyek tersebut.
Hanya Satu Penawar Aktif dalam Tender Ulang
Data evaluasi menunjukkan sembilan peserta tercatat mengikuti tender ulang ini. Namun hanya CV Azka Jaya Mandiri yang mengajukan penawaran harga.
Delapan peserta lain hanya tercatat mendaftar tanpa memasukkan harga penawaran. Kondisi ini membuat proses lelang berjalan tanpa persaingan nyata di tahap penawaran.
CV Azka Jaya Mandiri mengajukan harga Rp4.473.566.930,82. Nilai ini sama dengan hasil koreksi dan negosiasi, serta berada sekitar 0,65 persen di bawah HPS.
Tender Sebelumnya Sempat Gagal
Sebelum tender ulang, proyek ini sudah melalui proses lelang awal namun gagal karena tidak ada peserta yang lolos evaluasi penawaran. Pada tahap itu, CV Azka juga menjadi peserta tunggal, tetapi tidak memenuhi syarat administrasi.
Setelah panitia membuka ulang tender, kondisi keikutsertaan peserta tetap minim perubahan. Perbedaannya hanya pada hasil evaluasi, di mana CV Azka kali ini memenuhi syarat dan keluar sebagai pemenang.
Sorotan atas Minimnya Kompetisi dan Selisih Harga
Situasi tender yang hanya menghadirkan satu penawar aktif memunculkan pertanyaan publik. Banyak pihak mempertanyakan alasan peserta lain tidak mengajukan harga meski sudah terdaftar dalam sistem.
Sebagian kalangan juga menyoroti kemungkinan adanya faktor teknis atau persyaratan yang membuat kompetisi tidak berjalan optimal.
Selisih harga CV Azka yang hanya sekitar 0,65 persen di bawah HPS juga menjadi perhatian. Dalam kondisi tanpa kompetisi nyata, evaluasi kewajaran harga biasanya perlu dilakukan lebih ketat, termasuk pada harga satuan, metode kerja, serta kapasitas pelaksana.
Harapan Warga terhadap Kualitas Jalan
Warga di sekitar lokasi proyek menilai pembangunan jalan ini sangat penting untuk aktivitas ekonomi dan mobilitas harian. Mereka berharap pekerjaan menghasilkan kualitas yang kuat dan tahan lama.
Warga juga meminta pemerintah memperkuat pengawasan tidak hanya pada proses lelang, tetapi juga pada pelaksanaan di lapangan agar anggaran Rp4,5 miliar benar-benar memberikan manfaat.
Hingga kini, proyek masih berada pada tahap masa sanggah sebelum masuk ke tahap penandatanganan kontrak dan pelaksanaan pekerjaan.(ar)









