Jambi, oegopost.id – Harga TBS sawit di Jambi kembali turun pada periode 29 Mei–4 Juni 2026. Penurunan ini langsung menekan pendapatan petani karena harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit untuk umur tanaman 10–20 tahun jatuh ke Rp3.303,32 per kilogram atau turun Rp515,22.
Harga TBS sawit Jambi turun langsung menjadi sorotan utama di kalangan petani karena berdampak pada penghasilan harian mereka.
Penetapan Harga Terbaru dari Pemerintah
Pemerintah Provinsi Jambi menetapkan harga TBS melalui rapat resmi yang melibatkan berbagai pihak terkait sektor perkebunan.
Melalui keputusan tersebut, Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menurunkan harga TBS di hampir semua kelompok umur tanaman. Kebijakan ini mengikuti pergerakan harga minyak sawit mentah di pasar.
Seorang petani di Muaro Jambi menyebut kondisi ini cukup berat bagi mereka.
“Setiap kali harga turun, kami harus menyesuaikan biaya operasional. Kadang pupuk dan perawatan ikut kami kurangi,” katanya.
Rincian Harga TBS per Umur Tanaman
Harga TBS sawit ditentukan berdasarkan usia tanaman kelapa sawit. Setiap kelompok umur memiliki harga berbeda sesuai produktivitasnya.
- Umur 3 tahun: Rp2.556,09/kg
- Umur 4 tahun: Rp2.751,90/kg
- Umur 5 tahun: Rp2.876,75/kg
- Umur 6 tahun: Rp2.995,59/kg
- Umur 7 tahun: Rp3.070,91/kg
- Umur 8 tahun: Rp3.138,24/kg
- Umur 9 tahun: Rp3.198,74/kg
- Umur 10–20 tahun: Rp3.303,32/kg
- Umur 21–24 tahun: Rp3.208,10/kg
- Umur 25 tahun: Rp3.068,58/kg
Kelompok umur produktif 10–20 tahun masih mencatat harga tertinggi, tetapi tetap mengalami tekanan akibat penurunan periode ini.
Harga CPO dan Kernel Jadi Faktor Penentu
Pemerintah juga menetapkan harga minyak sawit mentah atau CPO di angka Rp12.601,89 per kilogram. Sementara itu, minyak inti sawit (kernel) berada di level Rp13.478,00 per kilogram dengan indeks K sebesar 95,22 persen.
Fluktuasi harga global CPO ikut memengaruhi harga TBS di tingkat petani. Saat harga internasional melemah, dampaknya langsung terasa hingga ke kebun.
Dampak ke Petani dan Harapan Stabilitas Harga
Banyak petani mulai menyesuaikan pengeluaran karena pendapatan berkurang. Beberapa bahkan menunda pemupukan agar biaya tidak membengkak.
Petani berharap harga segera stabil agar aktivitas perkebunan tetap berjalan normal. Mereka menilai kestabilan harga lebih penting daripada lonjakan sesaat.
“Kami butuh harga yang stabil supaya bisa atur biaya dengan pasti,” ujar seorang petani sawit di daerah setempat.(ar)









