Jambi, oegopost.id – Rentetan kasus kekerasan lingkungan sekolah terus mencoreng mutu pendidikan Provinsi Jambi secara berkepanjangan. Bahkan publik belum selesai menyoroti teror kekerasan terhadap guru, kini publik kembali menyaksikan aksi penganiayaan di SMAN Titian Teras Jambi.
Oleh karena itu, seorang siswa asrama menempuh langkah hukum untuk melaporkan pengeroyokan oleh senior pada Minggu malam (20/9/2026). Selain itu, tragedi ini membuktikan kegagalan sistematis sekolah berasrama dalam menghentikan budaya kekerasan yang membahayakan nyawa anak didik.
Sebelumnya, dunia pendidikan Jambi sempat terguncang akibat aksi oknum yang mengintimidasi serta menyerang tenaga pendidik di sekolah. Namun peristiwa memalukan tersebut justru membuktikan runtuhnya wibawa institusi belajar akibat minimnya jaminan keamanan bagi para guru.
Kini, siklus kelam itu merembet ke dalam bilik asrama sekolah unggulan. Akibatnya, para siswa yang seharusnya menimba ilmu kepemimpinan justru menumbuhkan mental preman melalui aksi kekerasan fisik antarsiswa.
Kronologi Pengeroyokan Tengah Malam di Kamar Asrama
Peristiwa bermula saat korban mendatangi rekannya berinisial H di kamar lantai atas sekitar pukul 23.30 WIB. Selanjutnya, korban mendapati enam siswa angkatan 31 dan empat siswa angkatan 32 berkumpul mengepung ruangan tersebut.
Kemudian pelaku berinisial R langsung memaksa korban berdiri tegak saat korban hendak duduk. Tanpa alasan jelas, pelaku Z tiba-tiba melayangkan tamparan keras ke arah telinga korban yang berlanjut dengan tendangan serta pukulan bertubi-tubi dari R.
Akibat benturan keras itu, korban terdorong ke belakang sebelum akhirnya memaksakan diri berdiri tegak hingga pukul 00.30 WIB. Selain rasa sakit hebat, telinga korban mengalami dengungan parah yang berpotensi memicu kerusakan pendengaran permanen.
Karena luka tersebut, korban langsung membawa kasus penganiayaan ini ke ranah hukum melalui laporan resmi di kepolisian. Di samping itu, langkah hukum ini mencerminkan rasa kecewa keluarga terhadap pengelola asrama yang sering menutup mata demi citra lembaga semata.
Sayangnya, Kepala SMAN Titian Teras Abdurrahman Sayoeti, Hendri Yulianto, memilih bungkam saat jurnalis meminta klarifikasi resmi. Ketertutupan pihak pimpinan sekolah akhirnya memperlihatkan rendahnya kemauan moral dalam menuntaskan perkara pidana di lingkungan asrama.
Oleh sebab itu, Gubernur Jambi dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi wajib membongkar total pola pengawasan asrama yang rapuh. Pada akhirnya, sikap mendiamkan kekerasan guru maupun penganiayaan siswa hanya akan melahirkan bibit pelaku kriminal baru.(ar)









