Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 30 September 2026 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS akibat inflasi global dan minyak naik.(poto: AI).

Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS akibat inflasi global dan minyak naik.(poto: AI).

Jakarta, oegopost.id – Tekanan berat melanda pasar keuangan domestik hingga rupiah tembus dolar as pada level psikologis Rp18.000. Bank Indonesia (BI) langsung merespons situasi ini dengan mengurai deretan pemicu utama di balik pelemahan tajam mata uang Garuda tersebut.

Gejolak ekonomi global dan kenaikan permintaan valuta asing di dalam negeri menjadi penggerak utama yang menekan posisi rupiah. Pasar keuangan menyaksikan pergerakan dinamis ini pada perdagangan Selasa siang.

Lonjakan Harga Minyak Global dan Tekanan Valas Importir

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengonfirmasi kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi global. Kenaikan harga minyak mentah dunia melebihi US$108 per barel akibat ketegangan di Selat Hormuz memicu kecemasan investor.

Kondisi tersebut mendorong ekspektasi pengetatan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang kembali melambung. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan menyentuh angka 5,23 persen, mencatatkan rekor tertinggi sejak 2007.

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi Jambi 4,93%: Kenapa Kesejahteraan Belum Merata?

Dari dalam negeri, para importir memborong valuta asing secara masif untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran menjelang akhir triwulan III. Pada momen bersamaan, aliran modal asing mengalir keluar dari pasar portofolio negara-negara berkembang.

Rentetan tekanan eksternal dan kebutuhan domestik ini mengguncang posisi rupiah di pasar uang. Kondisi ini menuntut langkah cepat dari otoritas moneter untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Strategi Bank Indonesia Mengintervensi Pasar Finansial Domestik

Menghadapi gempuran nilai tukar tersebut, BI mengintervensi pasar secara berkesinambungan untuk menjaga pergerakan rupiah tetap berada dalam koridor fundamentalnya. Otoritas moneter mengoptimalkan berbagai instrumen keuangan guna meredam gejolak harga yang berlebihan.

BI menjalankan transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik. Selain itu, BI siap memborong Surat Berharga Negara di pasar sekunder untuk menyerap tekanan jual dari pemegang aset.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp 17.668, Pasar Keuangan Tertekan dan BI Bersiap Ambil Langkah

Otoritas juga menggenjot insentif instrumen swap dan DNDF lindung nilai bagi pendanaan luar negeri. BI terus mengintensifkan komunikasi serta koordinasi bersama para pelaku pasar dan korporasi secara berkala.

Erwin menegaskan bahwa tingkat depresiasi rupiah secara quarter-to-date sebenarnya masih relatif terkendali pada angka 0,67 persen. Angka tersebut menunjukkan pergerakan rupiah yang masih seirama dengan tren mata uang regional lainnya di kawasan Asia.

Masyarakat dan para pelaku usaha mengimbau agar tidak panik menghadapi pergerakan nilai tukar saat ini. Cadangan devisa Indonesia per akhir Agustus 2026 tercatat masih melimpah pada angka 146,5 miliar dolar AS sebagai amunisi pertahanan.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?
Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu
Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit
Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional
Anggaran Subsidi Energi APBN 2027 Dipangkas Rp11 Triliun, DPR Buka Suara
Rupiah Rontok Rp18.000/US$, Bank Indonesia Buka Suara
Rupiah Anjlok Tembus Rp18.000, Daya Beli Kelas Menengah Terancam
Sri Kartini Alfin Dorong Promosi Kerajinan Sungai Penuh di KRIYANUSA 2026
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:55 WIB

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:33 WIB

Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional

Rabu, 30 September 2026 - 09:40 WIB

Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI

Berita Terbaru