Jambi, oegopost.id – Pembimbing Masyarakat Kristen Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi, Roberson Pakpahan, mengajak seluruh aparatur sipil negara memprioritaskan kebahagiaan keluarga dan memilih langkah untuk kejar hikmat bukan harta. Beliau mengutip langsung petuah mendalam orang tuanya tersebut saat memimpin agenda rutin Apel Kedisiplinan Pegawai di lingkungan instansi, Selasa (6/10/2026).
Arahan itu mengalir lugas kepada seluruh jajaran peserta apel pagi di halaman kantor wilayah. Beliau membagikan nasihat bijak tersebut agar setiap abdi negara mampu menyeimbangkan rutinitas kantor dengan kehangatan rumah tangga.
Roberson mengingatkan para abdi negara agar tidak larut dalam kesibukan mencari materi berlebih. Ambisi menumpuk kekayaan serta mengejar kedudukan tinggi kerap membuat seseorang melupakan arti kebahagiaan sejati bersama anak dan pasangan.
Kenyataan hidup menunjukkan bahwa pencapaian materi dan jenjang karier manusia berjalan fana. Seseorang bisa kehilangan limpahan kekayaan duniawi dan kekuasaan sewaktu-waktu tanpa aba-aba.
Setiap pemangku jabatan tertentu pada akhirnya akan melepaskan kedudukan tersebut saat masa bakti usai. Semua orang pada dasarnya akan menyandang status sebagai mantan pejabat ketika masa pensiun tiba.
Peringatan Tegas Jabatan Fana Demi Keharmonisan Rumah Tangga
Roberson menegaskan kembali hakikat rapuhnya harta kekayaan dalam kehidupan rumah tangga. Beliau mewanti-wanti seluruh pegawai agar menahan diri dari godaan mengejar ambisi materi yang tanpa ujung.
“Dalam rumah tangga itu, sebanyak apapun kekayaan itu akan pergi. Sebanyak apapun yang kita kumpulkan saat ini bisa hilang. Setinggi apapun jabatan saat ini, suatu saat bisa lepas. Oleh karena itu jangan kejar,” ujar Roberson di hadapan peserta apel.
Banyak orang terjebak dalam pusaran kerja tanpa henti hingga menomorduakan ketenangan batin pribadi. Beliau melihat kecenderungan manusia modern yang kerap mengorbankan waktu berharga demi ambisi duniawi semata.
“Kita terlalu sibuk mengejar harta, sehingga lupa dengan kebahagiaan. Jangan sampai terlalu mengejar sehingga lupa pada kebahagiaan di dalam rumah tangga,” pesan Roberson dengan nada penuh kehangatan.
Beliau meminta seluruh bapak dan ibu pegawai meluangkan waktu sejenak untuk berefleksi diri secara jujur. Setiap orang perlu menghitung kembali jumlah waktu berkualitas yang benar-benar mereka sediakan untuk orang terkasih.
Rutinitas pekerjaan kantor tidak boleh menjadi pembenaran untuk jarang bercengkerama dengan anggota keluarga di rumah. Ketiadaan waktu berkumpul hanya akan merenggangkan hubungan emosional antargenerasi secara perlahan.
Keluarga sejatinya dapat memetik kebahagiaan nyata lewat beragam rutinitas harian yang sangat bersahaja. Momen santap makanan bersama di meja makan mampu merekatkan ikatan batin yang sempat renggang.
Para orang tua juga bisa mengajak buah hati berjalan-jalan santai menikmati suasana sore di luar rumah. Agenda sederhana semacam itu efektif menghadirkan suasana damai dan keceriaan di tengah kesibukan harian.
Keluarga juga dapat menunaikan ibadah salat berjemaah bersama sebagai sarana menghadirkan keteduhan spiritual di lingkungan tempat tinggal. Berbagai langkah kecil tersebut terbukti ampuh menciptakan ruang aman dan penuh cinta bagi setiap anggota keluarga.
Waktu Bersama Keluarga Tidak Bisa Terulang Kembali Selamanya
Roberson menaruh perhatian besar pada konsep waktu luang yang sering kali pegawai abaikan begitu saja. Waktu yang berputar pergi tidak akan pernah bisa berputar kembali ke masa lalu.
Pegawai negeri sipil semestinya memanfaatkan setiap momentum kebersamaan selagi raga masih sehat dan kesempatan masih terbuka lebar. Penyesalan mendalam kerap datang terlambat ketika kehangatan keluarga sudah sirna tertelan waktu.
“Kebahagiaan itu tidak bisa dibeli. Ada waktunya kita tidak akan bisa bersama lagi, maka jangan katakan sibuk,” tutup Roberson mengakhiri sesi pembinaan kedisiplinan tersebut.
Kalimat penutup tersebut menyadarkan para peserta apel akan arti penting kehadiran fisik serta emosional orang tua. Jabatan dan harta duniawi kelak akan memudar, namun kenangan indah bersama keluarga tetap bertahan selamanya.(ar)









