Jakarta, oegopost.id – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) bersama Fadli Tri Hartono sebagai wakilnya pada Jumat (2/10/2026). Langkah pelantikan ini menandai babak baru penataan arus informasi publik di lingkungan Istana Kepresidenan.
Pergantian ini mencatatkan empat nama berbeda yang memimpin arsitektur komunikasi kepresidenan sejak masa transisi Agustus 2024. Sorotan publik kini tertuju pada tingginya frekuensi perombakan pimpinan pada pos strategis tersebut.
Masa kepemimpinan pos komunikasi bermula ketika Hasan Nasbi memimpin Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) sejak 19 Agustus 2024. Hasan menuntaskan masa tugasnya selama 394 hari atau 13 bulan sebelum lembaga tersebut berubah bentuk.
Pemerintah kemudian mentransformasi PCO menjadi BAKOM melalui penataan kelembagaan baru pada 17 September 2025. Angga Raka Prabowo lalu memegang kemudi lembaga baru tersebut selama sekitar 222 hari atau 7,3 bulan.
Estafet pimpinan selanjutnya beralih ke tangan Muhammad Qodari yang dilantik pada 27 April 2026. Qodari menempati posisi pimpinan selama 158 hari atau 5,2 bulan sebelum menerima penugasan baru.
Dalam kurun waktu sekitar 25,5 bulan, rata-rata masa jabatan pimpinan komunikasi pemerintah hanya mencapai 8,5 bulan. Khusus pada era BAKOM, pergantian terjadi dua kali dalam 12,5 bulan dengan masa kerja rata-rata 6,3 bulan.
Pencarian Keselarasan Komunikasi Politik di Lingkar Istana
Perputaran pimpinan yang cepat menunjukkan betapa dinamisnya tuntutan kerja pada pusat kendali informasi Presiden. Posisi ini memikul beban berat karena langsung berhadapan dengan dinamika opini masyarakat dan media massa.
Pakar komunikasi politik membaca frekuensi perombakan ini sebagai upaya Presiden menemukan figur yang paling tepat. Kepala negara membutuhkan sosok yang mampu mengimbangi ritme kerja kabinet sekaligus memahami arah kebijakan nasional.
Tugas pimpinan komunikasi tidak hanya mengumumkan program kerja kepada khalayak umum melalui siaran media. Pejabat bersangkutan harus menyerap respons masyarakat lalu menyampaikannya kembali sebagai bahan pertimbangan strategis Presiden.
Sedikit kekeliruan dalam memilih sudut pandang penyampaian dapat mengubah substansi kebijakan menjadi polemik publik. Oleh sebab itu, ruang kerja ini menuntut kehati-hatian tinggi dalam merancang narasi resmi negara.
Praktik hubungan masyarakat politik menuntut pimpinan komunikasi menjalankan fungsi analisis risiko secara matang. Tim komunikasi wajib mendeteksi potensi persoalan sebelum isu tersebut berkembang menjadi krisis terbuka.
Strategi komunikasi yang matang juga memerlukan keberanian untuk memberi saran langsung kepada kepala negara. Pimpinan komunikasi harus mengetahui waktu terbaik untuk menyampaikan pesan penting atau menahan diri demi stabilitas publik.
Tantangan Membangun Sistem Kelembagaan Komunikasi yang Berkelanjutan
Tantangan besar kini berada di pundak duet kepemimpinan Syahganda Nainggolan dan Fadli Tri Hartono. Mereka mengemban tugas menerjemahkan pemikiran Presiden ke dalam bahasa yang mudah dipahami seluruh lapisan masyarakat.
Presiden Prabowo sendiri menekankan peran komunikasi pemerintah sebagai instrumen vital penguat persatuan nasional. BAKOM harus menyederhanakan bahasa regulasi yang rumit tanpa mengurangi esensi aturan yang berlaku.
Kebutuhan mendesak saat ini berpusat pada pembentukan memori kelembagaan yang kokoh dan berkelanjutan. Sistem kerja yang mapan memastikan strategi komunikasi tetap berjalan stabil meski terjadi pergantian pejabat sewaktu-waktu.
Banyak negara maju telah menerapkan standar koordinasi komunikasi terpusat agar gerak birokrasi tidak terganggu pergantian orang. Keberhasilan komunikasi negara pada akhirnya terlihat dari tumbuhnya pemahaman dan kepercayaan nyata dari seluruh rakyat.(ar)









