Jakarta, Oegopost.id – Ferrari resmi membangkitkan kembali nama legendaris melalui peluncuran Ferrari 849 Testarossa PHEV. Kehadiran model teranyar ini sekaligus memegang peran penting sebagai suksesor resmi lini SF90 Stradale.
Supercar bertenaga buas ini memadukan mesin bensin konvensional dengan sistem elektrifikasi modern. Kesempatan menjajal unit istimewa ini berlangsung langsung di jalanan kawasan PIK 2, Tangerang.
Pengujian tersebut membuktikan kemampuan mobil dalam menghadirkan dua sensasi berkendara yang sangat kontras. Pengemudi dapat menikmati suasana hening khas motor listrik hingga gelegar knalpot mesin bakar.
Bahasa desain eksterior mobil ini memadukan unsur agresif dengan efisiensi aerodinamika tingkat tinggi. Guratan siluet bodinya mengadopsi garis desain prototipe balap legendaris Ferrari 512 S era 1970-an.
Lekukan tiga dimensi pada sisi bodi berfungsi menyedot dan membelah aliran udara menuju intercooler. Fasia depan tampil tegas lewat garis horizontal penyatu lampu, sedangkan buritan mengusung diffuser raksasa serta spoiler aktif.
Eksplorasi Ruang Kabin Ergonomis dan Desain Aerodinamis
Konsep kokpit pengemudi langsung menyambut begitu pintu terbuka dan pengemudi masuk ke area kabin. Dasbor horizontal mobil ini menampung layar interaktif khusus penumpang serta panel kendali yang mudah dijangkau.
Pabrikan asal Maranello juga menyediakan kursi balap serat karbon untuk menopang tubuh saat manuver ekstrem. Sistem multimedia mobil telah mendukung konektivitas Apple CarPlay, Android Auto, serta layanan terintegrasi MyFerrari Connect.
Karakter berkendara ganda mobil ini hadir berkat integrasi teknologi plug-in hybrid electric vehicle yang mutakhir. Saat memilih mode hybrid berlambang huruf H, supercar ini langsung melaju senyap tanpa getaran mesin bensin.
Pengemudi dapat memanfaatkan mode listrik murni atau eDrive untuk menempuh perjalanan harian sejauh 25 kilometer. Tenaga baterai listrik murni bekerja optimal menjaga efisiensi daya selama mobil melaju santai.
Perubahan karakter berkendara terasa sangat kontras saat pengemudi menekan pedal gas secara spontan dan dalam. Mesin V8 twin-turbo seketika menyala otomatis dan mengalirkan semburan tenaga dahsyat ke sistem penggerak roda.
Performa Buas Mesin V8 Twin Turbo Hybrid
Pengemudi juga dapat mengaktifkan mode mesin bensin murni melalui tuas simbol bendera di bagian bawah kemudi. Langkah ini seketika memicu raungan khas mesin berkapasitas 3.990 cc dari ruang mesin tengah-belakang.
Derasnya hisapan sistem turbocharger turut mempertegas harmoni suara mekanis saat putaran mesin melonjak tinggi. Pengemudi dapat mengatur tingkat kekerasan suspensi adaptif guna menyesuaikan kondisi permukaan jalan yang dilalui.
Penyetelan suspensi ke mode empuk terbukti sukses meredam getaran jalan konblok bergelombang di PIK 2. Karakter peredaman ini membuat mobil tetap nyaman melintasi aspal perkotaan tanpa kehilangan kestabilan bermanuver.
Sektor dapur pacu mengandalkan perpaduan mesin bensin V8 3.990 cc dan sokongan tiga unit motor listrik canggih. Mesin konvensional tersebut memuntahkan daya mandiri sebesar 830 Tk pada 7.500 rpm serta torsi 842 Nm.
Kombinasi kerja mesin bakar dan ketiga motor listrik menghasilkan total tenaga monster hingga mencapai 1.050 Tk. Transmisi dual-clutch F1 delapan percepatan bertugas membagi daya putar mesin menuju roda secara sangat presisi.
Pabrikan mengklaim mobil mampu melesat dari 0 hingga 100 km/jam dalam waktu singkat di bawah 2,3 detik. Mobil bertenaga buas ini bahkan sanggup terus di pacu hingga menembus kecepatan maksimum melampaui 330 km/jam.
Fleksibilitas performa ini membuktikan bahwa supercar modern sanggup menggabungkan efisiensi ramah lingkungan dengan kecepatan tinggi. Ferrari sukses meracik mobil kencang yang ramah untuk jalan raya sekaligus siap bertaji di sirkuit.(ar)









