Jakarta, oegopost.id – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi memperkuat perlindungan satwa dengan memasang GPS Collar Gajah Sumatra di bentang alam Bukit Tigapuluh.
Langkah ini membantu petugas memantau pergerakan gajah secara lebih cepat sekaligus memperkuat sistem peringatan dini di kawasan habitat satwa tersebut.
Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko mengatakan teknologi pelacak menjadi salah satu alat penting dalam pengawasan populasi gajah.
BKSDA memilih pendekatan itu karena gajah hidup dalam kelompok dan memiliki pola pergerakan yang saling terhubung.
Tim BKSDA lebih dulu memetakan kelompok gajah yang berada di lanskap Bukit Tigapuluh.
Melalui pemetaan itu, tim menghitung jumlah kelompok sekaligus menentukan strategi pemantauan yang lebih efektif.
Hasil studi menunjukkan terdapat lima kelompok besar gajah betina di wilayah tersebut. Berdasarkan pola perilaku gajah, BKSDA memilih satu pemimpin dari masing-masing kelompok untuk menggunakan GPS collar.
Monitoring Real-Time Perkuat Pengawasan
Teknologi GPS collar membantu petugas memantau posisi dan arah pergerakan gajah secara real-time. Data yang terkumpul memberi gambaran lebih cepat mengenai aktivitas satwa di lapangan.
Petugas kemudian menggunakan informasi tersebut untuk menyusun langkah pengawasan yang lebih tepat. Sistem ini juga membantu tim memahami perubahan pola pergerakan gajah dari waktu ke waktu.
BKSDA tidak hanya memasang alat pelacak pada kelompok betina. Tim konservasi juga memasang GPS collar pada satu gajah jantan dewasa.
BKSDA mengambil langkah itu karena gajah jantan dewasa sering bergerak sendiri dan tidak selalu mengikuti kelompok utama.
Karakter tersebut membuat pemantauan terhadap gajah jantan membutuhkan pendekatan berbeda.
Perkuat Sistem Peringatan Dini
BKSDA Jambi menargetkan sistem peringatan dini berjalan lebih efektif melalui penggunaan teknologi ini.
Petugas berharap sistem tersebut mampu memberikan informasi lebih cepat mengenai keberadaan gajah.
Informasi yang tersedia lebih awal dapat membantu mencegah interaksi negatif antara manusia dan satwa.
Langkah ini juga mendukung perlindungan terhadap populasi gajah di habitat alaminya.
Selain itu, petugas memanfaatkan data pergerakan untuk mengawasi area yang memiliki risiko tinggi terhadap aktivitas perburuan.
Dengan pola pemantauan yang lebih terarah, tim konservasi dapat meningkatkan perlindungan terhadap satwa.
BKSDA juga menjadikan sistem ini sebagai bagian dari strategi menjaga keselamatan gajah. Pengawasan yang lebih intensif diharapkan mampu menekan ancaman yang membahayakan populasi.
Himawan memperkirakan populasi gajah di kawasan tersebut mencapai sekitar 120 ekor. Sebagian besar populasi itu berada di bentang alam Bukit Tigapuluh.
Menurut Himawan, tujuan utama program ini tetap berfokus pada peningkatan kemampuan monitoring, penguatan sistem peringatan dini, dan pencegahan interaksi negatif.
Melalui langkah tersebut, BKSDA ingin menjaga keberlangsungan hidup gajah sumatra secara lebih efektif.
Teknologi pelacakan kini menjadi salah satu pendukung penting dalam upaya konservasi.
BKSDA berharap pemantauan yang lebih akurat dapat memperkuat perlindungan satwa di kawasan Bukit Tigapuluh.(ar)









