Dunia Diminta Siap-Siap, Peringatan Geoffrey Hinton soal AI Bikin Khawatir

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 24 April 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Geoffrey Hinton, kembali menyampaikan peringatan serius tentang perkembangan AI yang melaju sangat cepat.( Poto : Radical Ventures )

Geoffrey Hinton, kembali menyampaikan peringatan serius tentang perkembangan AI yang melaju sangat cepat.( Poto : Radical Ventures )

Jakarta, oegopost.id – Peraih Nobel sekaligus pelopor kecerdasan buatan, Geoffrey Hinton, kembali menyampaikan peringatan serius tentang perkembangan AI yang melaju sangat cepat. Ia menilai dunia belum menyiapkan sistem pengawasan yang kuat. Karena itu, ia mendesak semua pihak untuk segera bertindak.

Selain itu, Hinton melihat banyak negara masih tertinggal dalam merumuskan aturan. Akibatnya, teknologi AI berkembang lebih cepat daripada regulasinya.

AI Harus Dikendalikan dengan Regulasi

Hinton menegaskan bahwa AI membutuhkan regulasi yang jelas dan tegas. Ia mengibaratkan AI seperti kendaraan berkecepatan tinggi tanpa kemudi. Tanpa kontrol, teknologi ini bisa keluar jalur dan membahayakan banyak orang.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyusun aturan yang mampu mengarahkan penggunaan AI. Di sisi lain, perusahaan teknologi juga harus mematuhi standar keamanan yang ketat. Dengan demikian, AI bisa memberi manfaat tanpa menimbulkan risiko besar.

Nilai Ekonomi AI Terus Melonjak

Sementara itu, laporan dari UNCTAD menunjukkan pertumbuhan industri AI yang sangat pesat. Nilai pasar AI terus meningkat dan diperkirakan melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan. Namun demikian, pertumbuhan ini tidak otomatis membawa pemerataan. Justru sebaliknya, perkembangan AI cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Baca Juga :  Redmi A7 Pro Resmi Dijual di Indonesia, Harga Rp1 Jutaan

Ketimpangan Global Semakin Terlihat

Menurut Pedro Manuel Moreno, hanya segelintir negara dan perusahaan yang menguasai teknologi AI. Kondisi ini menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antarnegara.

Selain itu, Sekjen International Telecommunication Union, Doreen Bogdan-Martin, menegaskan bahwa negara maju mengadopsi AI jauh lebih cepat dibandingkan negara berkembang. Oleh karena itu, banyak negara hanya menjadi pengguna, bukan pencipta teknologi.

Risiko AI terhadap Transparansi dan Keadilan

Di samping itu, para ahli menyoroti berbagai risiko yang muncul dari penggunaan AI. Mereka menemukan adanya bias algoritma, kurangnya transparansi, serta dominasi data oleh perusahaan besar. Karena itu, mereka mendorong penerapan sistem yang lebih terbuka dan akuntabel. Dengan langkah tersebut, masyarakat bisa mengawasi penggunaan AI secara lebih efektif.

Baca Juga :  Pendiri Google Menyesal Pensiun, Sergey Brin Kembali Aktif Kembangkan AI

Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Lebih lanjut, jurnalis sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Maria Ressa, menilai AI dapat melemahkan sistem demokrasi. Ia melihat teknologi ini mampu mempercepat penyebaran informasi palsu.

Akibatnya, publik semakin sulit membedakan fakta dan manipulasi. Bahkan, kondisi ini dapat merusak kepercayaan terhadap media dan lembaga hukum. Pada akhirnya, situasi tersebut membuka peluang bagi meningkatnya praktik korupsi.

PBB Dorong Kolaborasi Global

Sebagai respons, Perserikatan Bangsa-Bangsa akan menggelar forum global untuk membahas tata kelola AI. Forum ini akan melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Selain itu, utusan khusus PBB untuk teknologi, Amandeep Gill, menekankan pentingnya kolaborasi internasional. Ia mengajak semua pihak untuk menyusun kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah.

Dengan kerja sama tersebut, dunia dapat mengarahkan perkembangan AI ke arah yang lebih aman, adil, dan bermanfaat bagi semua.***

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Internet Gratis, Eks TKI Ini Kini Hasilkan Rp6 Juta per Bulan
WhatsApp Uji Coba WhatsApp Plus dengan Fitur Berbayar di Eropa
Cara Agar WhatsApp Tidak Bisa Ditelepon Tanpa Blokir Kontak
Perbedaan Coding dan Programming: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Contohnya
Huawei AI Glasses: Kacamata Pintar Ringan dengan Kamera 12 MP dan Baterai 9 Jam
Saldo DANA Gratis 2026: Cara Resmi dan Aman untuk Menambah Saldo Dompet Digital
skill yang tidak tergantikan AI: Bos LinkedIn Ungkap 5 Kemampuan Penting Manusia di Era Digital
Pendiri Google Menyesal Pensiun, Sergey Brin Kembali Aktif Kembangkan AI
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 11:00 WIB

Dunia Diminta Siap-Siap, Peringatan Geoffrey Hinton soal AI Bikin Khawatir

Jumat, 24 April 2026 - 10:00 WIB

Internet Gratis, Eks TKI Ini Kini Hasilkan Rp6 Juta per Bulan

Kamis, 23 April 2026 - 15:00 WIB

WhatsApp Uji Coba WhatsApp Plus dengan Fitur Berbayar di Eropa

Kamis, 23 April 2026 - 04:00 WIB

Cara Agar WhatsApp Tidak Bisa Ditelepon Tanpa Blokir Kontak

Rabu, 22 April 2026 - 14:00 WIB

Perbedaan Coding dan Programming: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Contohnya

Berita Terbaru

Klepon Pandan Anti Gagal: Lembut, Kenyal, dan Isian Lumer! ( Poto : Arenga Indonesia ).

Nasional

Klepon Pandan Anti Gagal: Lembut, Kenyal, dan Isian Lumer!

Jumat, 24 Apr 2026 - 13:00 WIB

Internet gratis dari program Kampung Internet mengubah hidup warga desa. Dari sulit sinyal, kini bisa raup jutaan rupiah lewat afiliator dan UMKM digital.( Poto : CNN Indonesia/ Yogi Anugrah ).

Teknologi

Internet Gratis, Eks TKI Ini Kini Hasilkan Rp6 Juta per Bulan

Jumat, 24 Apr 2026 - 10:00 WIB