Israil, Oegopost.id – Suhu politik menjelang pemilihan legislatif Israel pada Selasa (27/10/2026) kian mendidih. Dua tokoh utama, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan rivalnya dari poros kanan-tengah Gadi Eisenkot, bertarung habis-habisan memperebutkan suara publik.
Keduanya gencar melempar materi kampanye digital berbasis kecerdasan buatan (AI) lewat media sosial. Alih-alih adu gagasan damai, video manipulasi digital tersebut justru memantik kegaduhan publik karena menyentuh ranah pribadi hingga keluarga korban perang.
Jajak pendapat menunjukkan kubu Netanyahu dan Eisenkot bersaing sangat ketat. Pemungutan suara ini sekaligus menandai pemilu pertama Israel sejak meletusnya perang Gaza pada Oktober 2023.
Saling Sindir Menggunakan Karakter Rekayasa AI
Eisenkot membuka babak baru perang digital lewat unggahan video di platform X pada Rabu (21/10/2026). Momentum itu sengaja ia pilih tepat saat Netanyahu merayakan ulang tahun ke-77.
Video tersebut menampilkan sejumlah figur rekayasa AI yang menyampaikan ucapan selamat bernada sindiran tajam kepada Netanyahu. Salah satu karakter buatan berwujud milisi Hamas yang berbicara langsung dari dalam terowongan bawah tanah.
Eisenkot memanfaatkan figur rekayasa itu untuk mengkritik rekam jejak kebijakan keamanan Netanyahu selama puluhan tahun. Sosok AI lain yang menyerupai Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga muncul melontarkan ancaman sarkastis terkait bom.
Kubu Netanyahu membalas langkah tersebut dengan taktik serupa sejak beberapa bulan sebelumnya. Likud merilis video yang memperlihatkan Eisenkot menolak pelukan seorang pemuda berkaus “Persatuan Israel”.
Kontroversi langsung meledak karena karakter pemuda itu menyerupai mendiang putra Eisenkot yang gugur di Gaza pada 2023. Eisenkot mengecam keras peredaran klip tersebut dan menyebut tindakan tim Netanyahu sebagai penghinaan luar biasa.
Sentimen Rasial dan Tekanan pada Keluarga Korban
Persaingan digital ini juga menyasar kelompok minoritas lewat penyebaran ketakutan terhadap politikus Arab-Israel. Tim kampanye Likud kerap membagikan visual manipulasi yang menggambarkan lawan politik mereka sedang membuka kedok untuk membantu politisi Arab masuk ke pemerintahan.
Di lapangan, tekanan keras turut menghantam para kandidat yang membawa luka perang keluarga. Calon legislatif dari partai baru Amcha Israel, Laly Derai, merasakan teror bertubi-tubi sejak mencalonkan diri.
Derai yang kehilangan putranya di medan tempur Gaza pada 2024 terus menerima panggilan telepon gelap dan poster ancaman di dekat rumahnya. Tekanan itu muncul karena ia mendukung aturan wajib militer bagi seluruh warga tanpa pengecualian.
Keluarga mantan sandera Hamas pun tidak luput dari tarikan polarisasi. Akun pendukung Likud sengaja mengunggah komparasi visual bernada kontras antara kandidat pro-pemerintah dan ibu mantan sandera yang vokal mengkritik Netanyahu.
Pertarungan sengit ini berujung pada perebutan 120 kursi di parlemen Knesset. Siapa pun pemenangnya wajib merangkul koalisi minimal 61 kursi demi membentuk pemerintahan baru Israel.(ar)









