Jakarta, Oegopost.id – Sebagian besar masyarakat masih menganggap penyakit katarak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Anggapan keliru ini membuat banyak generasi produktif mengabaikan faktor risiko katarak usia muda.
Padahal, gangguan penglihatan ini mengancam siapa saja tanpa mengenal batasan usia. Dokter spesialis mata mengingatkan bahaya kerusakan lensa mata yang mengintai kelompok usia produktif.
Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menyampaikan fakta penting terkait kondisi geografis Indonesia. Letak geografis Indonesia yang melintasi garis khatulistiwa mempercepat laju kerusakan lensa mata penduduk lokal.
Matahari memancarkan radiasi ultraviolet sangat tinggi sepanjang tahun di kawasan beriklim tropis. Kondisi cuaca panas ekstrem ini memicu proses pengeruhan lensa mata terjadi jauh lebih cepat.
Mata manusia memang membutuhkan bantuan berkas cahaya untuk menangkap berbagai objek visual. Namun, paparan sinar ultraviolet berlebih justru merusak jaringan penting pada lensa mata.
Intensitas cahaya matahari yang melimpah menyimpan ancaman serius bagi kesehatan mata masyarakat. Prof. Tjahjono menegaskan bahwa sinar matahari bekerja layaknya pisau bermata dua bagi organ penglihatan.
Ancaman Bahaya Radiasi Ultraviolet Mengintai Pekerja Lapangan Tropis
Kepala Lions Eye Bank Jakarta, dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), menekankan pentingnya perlindungan fisik sejak dini. Seseorang yang sering beraktivitas di luar ruangan wajib melindungi area mata dari sengatan surya.
Masyarakat perlu memakai kacamata hitam berstandar khusus saat melakoni pekerjaan di area terbuka. Kacamata hitam berfungsi sebagai pelindung utama untuk memblokir paparan radiasi ultraviolet berbahaya.
Kelompok usia muda juga dapat mengenakan topi berdaun lebar ketika beraktivitas di bawah terik matahari. Pembiasaan proteksi fisik sejak dini mampu menekan laju percepatan kerusakan lensa mata.
Selain faktor cuaca, riwayat penyakit kronis memegang peranan besar memicu katarak dini. Penyakit diabetes melitus menjadi penyumbang kasus katarak terbesar di luar faktor usia lanjut.
Kadar gula darah yang tinggi secara otomatis memangkas cadangan antioksidan alami tubuh. Kondisi medis ini mempercepat kekeruhan lensa mata pada penderita diabetes usia produktif.
Penggunaan racikan obat medis tertentu dalam jangka panjang turut menyumbang kerusakan lensa mata. Pasien asma yang rutin mengonsumsi obat semprot steroid menghadapi risiko gangguan penglihatan serupa.
Penderita penyakit kanker yang menjalani terapi medis tertentu juga rentan mengalami katarak prematur. Selain itu, penderita gangguan refraksi mata minus tinggi wajib meningkatkan kewaspadaan ekstra.
Seseorang dengan ukuran refraksi minus 15 hingga 20 mengalami degenerasi lensa mata lebih awal. Kondisi mata minus ekstrem membuat penderita berpeluang besar terkena katarak di usia muda.
Pola Makan Bergizi Seimbang Cegah Risiko Kekeruhan Lensa
Masyarakat luas selama ini meyakini mitos bahwa konsumsi wortel menjadi senjata tunggal pencegah gangguan mata. Prof. Tjahjono menegaskan bahwa wortel bukanlah satu-satunya makanan penolong kesehatan organ penglihatan.
Wortel memang kaya vitamin A, namun bola mata manusia sangat memerlukan pasokan vitamin C masif. Cairan bola mata membutuhkan konsentrasi vitamin C hingga ratusan kali lebih tinggi daripada aliran darah.
Asupan vitamin C dosis tinggi berfungsi menangkal stres oksidatif akibat gempuran cahaya matahari harian. Masyarakat harus menerapkan pola konsumsi makanan bergizi seimbang untuk menjaga kebugaran tubuh secara menyeluruh.
Penyakit katarak tidak muncul secara tiba-tiba dalam kurun waktu satu malam saja. Kerusakan struktur lensa mata ini berjalan perlahan melalui akumulasi kebiasaan buruk selama puluhan tahun.
Proses pembentukan katarak umumnya merangkak lambat dalam rentang waktu 15 hingga 30 tahun. Kelalaian menjaga pola makan sejak usia 30 tahun memicu serangan katarak lebih dini pada usia paruh baya.
Generasi muda harus mulai memperbaiki pola hidup sehat serta disiplin merawat organ penglihatan. Langkah preventif sedini mungkin menjadi kunci utama menyelamatkan mata dari ancaman kebutaan katarak.(ar)









