Jakarta, Oegopost.id – Lonjakan hormon masa kehamilan kerap memicu kemunculan bercak kecokelatan atau melasma pada area wajah. Dokter mengenali kondisi ini sebagai pregnancy mask yang umumnya membentuk pola simetris pada pipi, dahi, hidung, serta dagu.
Dr Lavanya Kiran menjelaskan bahwa peningkatan hormon estrogen dan progesteron memegang peranan utama dalam memicu masalah ini. Hormon-hormon tersebut merangsang melanosit memproduksi pigmen kulit secara berlebihan, terutama ketika sinar matahari menyengat kulit wajah.
Sebuah riset tahun 2024 mengungkapkan bahwa melasma menyerang sekitar 36,4 hingga 75 persen perempuan hamil. Kondisi ini lebih sering menyasar pemilik warna kulit gelap serta perempuan yang memiliki riwayat keluarga serupa.
Kondisi kulit ini memang tidak mengganggu keselamatan janin, tetapi perubahan tampilan wajah sering menurunkan rasa percaya diri ibu hamil. Tekanan stres, pola tidur yang buruk, serta kehamilan kembar semakin memperbesar peluang munculnya bercak gelap tersebut.
Ibu hamil perlu mengutamakan langkah pencegahan karena prosedur medis tertentu berisiko membahayakan perkembangan janin. Dr Kiran menganjurkan pemakaian tabir surya berspektrum luas dengan SPF minimal 30 setiap hari, baik di dalam maupun di luar ruangan.
Penggunaan topi bertepi lebar serta upaya membatasi aktivitas di bawah terik matahari siang hari memberi perlindungan ekstra. Kebiasaan ini secara efektif menghambat rangsangan berlebih pada sel-sel penghasil pigmen kulit.
Ibu hamil sebaiknya hanya memilih pembersih wajah serta pelembap berformula lembut untuk rutinitas harian. Mereka wajib menjauhi bahan aktif seperti retinoid, krim pemutih keras, serta tindakan eksfoliasi kimiawi tanpa rekomendasi dokter.
Tubuh biasanya mengembalikan warna kulit ke kondisi semula secara bertahap seiring stabilnya kembali kadar hormon pascapersalinan. Ibu dapat berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kulit jika bercak hitam tersebut masih bertahan lama setelah melahirkan.(ar)









