Mataram, Oegopost.id – Warga merawat kerukunan Muslim Hindu Lombok lewat kebiasaan hidup berdampingan di Pulau Seribu Masjid. Hubungan harmonis suku Sasak dan Bali ini hidup dalam tata cara kuliner hingga kesepakatan suara ibadah.
Peneliti Sosiologi Agama UIN Mataram, Suparman Jayadi, memaparkan temuan lapangan tersebut dalam forum ilmiah pada Kamis (8/10/2026). Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam bersama LP2M UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menggelar webinar bertajuk “Harmoni Kultural Muslim dan Hindu di Lombok”.
Dosen UIN Jambi, Juparno Hatta, memandu jalannya diskusi yang mengulas hasil riset etnografis periode 2025–2026 itu. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bersama Kementerian Kebudayaan RI mendanai riset lapangan tersebut secara penuh.
Suparman meneliti cara kedua kelompok masyarakat menjaga ketahanan sosial tanpa terjebak debat dogma agama. Ia menemukan dua praktik kunci di lapangan, yakni diplomasi gastronomi dan akustik toleransi.
Diplomasi Daging Kerbau Hingga Pengaturan Suara Rumah Ibadah
Komunitas Hindu memilih menyembelih kerbau sebagai jalan tengah persembahan kurban dalam kehidupan bermasyarakat. Langkah ini menghindari sapi yang sakral bagi umat Hindu serta babi yang haram bagi umat Muslim.
Pilihan daging kerbau mencerminkan konsep sukla dalam tradisi Hindu sekaligus menjamin kehalalan bagi warga Muslim. Warga setempat membuktikan kesepakatan meja makan mampu meredam potensi gesekan sosial antarkelompok.
Kompromi serupa juga tampak nyata pada tata kelola bebunyian di ruang publik bersama. Pengelola pura segera menghentikan tabuhan gamelan begitu lantunan azan Magrib mulai berkumandang dari masjid.
Warga menyebut sikap saling tenggang rasa lewat bunyi ini sebagai praktik akustik toleransi. Umat Hindu menghormati waktu ibadah tetangga Muslim tanpa kehilangan identitas kebudayaan mereka sendiri.
Tiga Ancaman Nyata Yang Membayangi Harmoni Warga Lokal
Meski demikian, Suparman mengingatkan tiga faktor luar yang berpotensi merusak ketahanan sosial masyarakat Lombok. Ia menyoroti bahaya puritanisme transnasional, ekspansi pariwisata massal, serta dampak buruk disrupsi digital.
Paham puritanisme transnasional kerap menyerang tradisi lokal dan mengikis ruang temu antarumat beragama. Pandangan sempit ini berisiko menutup ruang kompromi yang sudah lama terbangun di tengah warga.
Industri pariwisata massal juga mengancam kesakralan ritual karena menjadikannya komoditas tontonan pelancong semata. Fenomena tersebut perlahan menggeser kendali warga lokal atas ruang suci dan tradisi mereka.
Di sisi lain, algoritma media sosial memicu polarisasi melalui sebaran konten keagamaan yang provokatif. Ruang digital kerap menenggelamkan narasi damai akar rumput demi mengangkat isu perselisihan demi viralitas.
Suparman menilai pendekatan etnografis sangat penting guna menggali mekanisme bertahan masyarakat tradisional. Riset mendalam membantu publik memahami cara warga menjaga perdamaian di tengah derasnya arus modernisasi.
Perbedaan latar belakang keyakinan semestinya tidak menjadi dinding pemisah antarkelompok masyarakat. Keragaman justru membuka ruang perjumpaan yang luas untuk merayakan nilai-nilai kemanusiaan secara bersama-sama.(ar)









