Jakarta, oegopost.id – Singapura menghadapi proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2026 setelah data terbaru menunjukkan hasil di bawah target sebelumnya. Kondisi ini mendorong Monetary Authority of Singapore (MAS) menyesuaikan arah kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi.
MAS memperkirakan kesenjangan output berada di sekitar nol persen. Angka ini menunjukkan ekonomi Singapura tidak tumbuh lebih cepat dari kapasitas potensialnya. Aktivitas ekonomi cenderung stabil namun tidak menunjukkan akselerasi yang kuat.
Biaya energi global tekan aktivitas ekonomi
Kenaikan harga energi global menekan kinerja ekonomi Singapura. Biaya impor yang lebih tinggi membuat pelaku usaha mengeluarkan lebih banyak dana untuk produksi dan distribusi.
Kondisi ini juga mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri. Perusahaan menyesuaikan harga untuk menutup kenaikan biaya operasional yang terus meningkat.
Gangguan rantai pasok ikut memperburuk tekanan
Gangguan rantai pasok global memperlambat distribusi barang dan meningkatkan biaya logistik. Pelaku usaha menghadapi tantangan dalam menjaga kelancaran pasokan bahan baku dan produk jadi.
Situasi ini memperkuat tekanan inflasi karena keterlambatan distribusi ikut mendorong kenaikan harga di berbagai sektor.
Bank sentral revisi proyeksi inflasi 2026
MAS menaikkan proyeksi inflasi untuk tahun 2026. Bank sentral memperkirakan inflasi inti dan inflasi utama berada di kisaran 1,5 persen hingga 2,5 persen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya di level 1,0 persen hingga 2,0 persen.
Revisi ini mencerminkan tekanan harga yang masih bertahan, terutama dari faktor eksternal seperti energi dan perdagangan global.
MAS perketat kebijakan moneter lewat S$NEER
Untuk merespons kondisi tersebut, MAS memperketat kebijakan moneter melalui penguatan nilai tukar dolar Singapura (S$NEER). Bank sentral mempercepat laju apresiasi mata uang tanpa mengubah batas atas maupun bawah kebijakan yang berlaku.
Langkah ini bertujuan menekan inflasi impor dan menjaga stabilitas harga di pasar domestik.
Ekonom menilai langkah masih terkendali
Para ekonom menilai kebijakan MAS masih berada dalam kategori moderat. Mereka melihat bank sentral tidak menghadapi tekanan inflasi yang ekstrem, tetapi tetap mengambil langkah pencegahan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Prospek ekonomi masih dibayangi ketidakpastian global
Ke depan, Singapura masih menghadapi ketidakpastian ekonomi global, terutama terkait harga energi dan kondisi perdagangan internasional. Pemerintah dan bank sentral terus memantau perkembangan ekonomi dan menyesuaikan kebijakan agar pertumbuhan tetap seimbang dengan stabilitas harga.***









