Sungai Penuh, oegopost.id – Wali Kota Alfin, S.H., dan Wakil Wali Kota Azhar Hamzah melepas Kafilah Kota Sungai Penuh menuju arena MTQ ke-55 Provinsi Jambi. Momentum ini memicu optimisme baru bagi kemajuan syiar Islam daerah. Oleh karena itu, acara pelepasan ini sekaligus membuka jalan evaluasi bersama. Pemkot, Kemenag, dan LPTQ kini dapat menata kembali strategi jangka panjang.
Selama ini, Pemkot bersama LPTQ dan Kemenag selalu mengutus putra-putri daerah asli. Sikap mandiri ini tentu layak mendapat apresiasi tinggi. Namun, pengelola kafilah kini menghadapi tantangan baru. Pengelola harus mengubah potensi lokal ini menjadi gelar Juara Umum. Sungai Penuh harus mampu memutus dominasi Kota Jambi dan Tanjung Jabung Barat.
Pemerhati keagamaan menilai pengelola perlu segera mengambil lima langkah konkret berikut.
1. Menata Jadwal Latihan Sepanjang Tahun
Kafilah juara selalu menjaga kesinambungan masa latihan. Oleh sebab itu, LPTQ perlu mengubah pola pemusatan latihan musiman menjadi program kerja tahunan.
Pengelola dapat mengarahkan dana hibah untuk menghadirkan dewan hakim nasional secara berkala. Selain itu, pakar nasional ini bertugas melatih lagu, tajwid, dan seni khat terbaru. Dengan demikian, kualitas pelatih lokal dan peserta akan meningkat secara nyata.
2. Menghentikan Migrasi Bakat dan Memberi Beasiswa
Banyak kader muda berbakat melanjutkan studi ke luar kota, seperti ke Padang atau Pulau Jawa. Akibatnya, daerah lain sering merekrut talenta potensial ini.
Untuk mengatasi persoalan ini, LPTQ dan Kemenag harus menyusun pangkalan data santri terpadu. Selanjutnya, Pemkot dapat memberikan Beasiswa Duta Qur’ani kepada peserta berprestasi. Skema beasiswa ini mengikat komitmen santri agar mereka selalu membela Kota Sungai Penuh.
3. Membina Cabang dengan Potensi Nilai Tinggi
Penentuan juara umum bergantung pada akumulasi poin seluruh nomor perlombaan. Kafilah Sungai Penuh biasanya unggul pada cabang Khattil dan Fahmil. Namun, kafilah kerap kehilangan poin pada nomor Tafsir dan Hifzhil 30 Juz.
Oleh karena itu, Kemenag perlu merangkul pondok pesantren di Kerinci dan Sungai Penuh. Pesantren dapat membuka kelas pembibitan mufasir muda sejak dini. Selain itu, program karantina hafalan mutqin akan mengisi cabang yang selama ini kosong.
4. Mengasah Mental Lewat Kompetisi Terbuka
Faktor jarak geografis sempat membatasi ruang gerak peserta. Oleh sebab itu, pengelola harus memperbanyak agenda uji tanding ke luar daerah.
LPTQ dapat mengirim kafilah mengikuti berbagai musabaqah terbuka di Sumatra Barat. Langkah ini sangat ampuh untuk mengikis rasa gugup di atas panggung. Selain itu, peserta dapat segera mengenali standar penilaian dewan hakim terkini.
5. Memperketat Standar Seleksi dari Tingkat Desa
Prestasi tingkat provinsi berakar dari proses seleksi yang sehat di wilayah dasar. Oleh karena itu, aparatur kecamatan dan KUA harus menggelar seleksi berjenjang secara jujur.
Panitia wajib menerapkan standar penilaian LPTQ Nasional sejak seleksi tingkat kelurahan. Dengan demikian, hanya peserta terbaik yang berhak masuk ke dalam tim utama kota. Kolaborasi terarah ini akan mengantar Kota Sungai Penuh meraih trofi Juara Umum MTQ Provinsi Jambi.(ar)









