Batang Hari, oegopost.oid – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Hari, Jambi, mencatat rentetan peristiwa bencana alam di wilayahnya. Petugas menemukan sedikitnya empat titik longsor bantaran sungai Batanghari yang mengancam keselamatan pemukiman warga setempat. Pihak terkait langsung menerjunkan tim ke lapangan guna meminimalkan dampak risiko lingkungan bagi masyarakat sekitar.
Empat titik longsor tersebut terdeteksi di Desa Malapari, Desa Sungai Rengas, Desa Pasar Terusan, serta Napal Sisik. Tim reaksi cepat saat ini fokus melakukan pendataan untuk menyusun langkah penanganan darurat secara cepat. Langkah awal ini bertujuan memetakan tingkat kerawanan tanah di sepanjang jalur aliran sungai tersebut.
Sekretaris BPBD Kabupaten Batang Hari, Sholihin, memimpin langsung proses peninjauan faktual di lokasi terdampak pada Rabu. Personelnya mengumpulkan data otentik sebagai bahan laporan utama untuk menentukan tindakan mitigasi lanjutan. Pemerintah daerah berkomitmen memberikan penanganan darurat yang efektif demi kenyamanan warga.
“Kita sudah turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi daerah longsor tersebut,” kata Sholihin saat memberikan keterangan di Muara Bulian.
Tim BPBD Selidiki Laporan Titik Longsor Baru
Selain empat lokasi utama, petugas juga menerima laporan mengenai kemunculan rekahan tanah baru di tempat lain. Informasi terbaru menyebutkan adanya titik longsor susulan yang terjadi di kawasan Desa Sungai Rengas. Saat ini, tim penanggulangan bencana sedang bergegas meneliti tingkat pergeseran tanah di area pemukiman baru tersebut.
“Tim kita sedang melakukan verifikasi longsor yang baru terjadi,” ujar Sholihin menambahkan.
Evaluasi cepat di lapangan sangat penting agar pergerakan tanah susulan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas. Petugas di lapangan terus mengamati stabilitas struktur tanah tebing yang berbatasan langsung dengan air sungai.
Rumah Penduduk Terancam Amblas Ke Aliran Sungai
Meskipun peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa, dampak kerusakan tanah mulai mengancam bangunan tempat tinggal warga. Di Desa Pasar Terusan, satu unit rumah berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat abrasi tebing sungai. Longsoran tanah membuat bagian dapur rumah warga tersebut kini dalam posisi hampir menggantung ke arah sungai.
Ancaman serupa juga membayangi wilayah pemukiman penduduk di lokasi yang berbeda. Di Desa Malapari, jarak bibir longsoran dengan dinding rumah warga diperkirakan kini hanya tersisa sekitar lima meter. Sementara itu, titik longsor yang berada di Napal Sisik dilaporkan masih berada dalam jarak aman dari pusat pemukiman padat.
BPBD Batang Hari Siapkan Opsi Rencana Relokasi
Untuk penanganan jangka panjang, BPBD Batang Hari segera menjalin komunikasi intensif dengan Dinas Perkim setempat. Kedua instansi membahas peluang relokasi bagi rumah-rumah warga yang berada di zona merah rawan bencana. Langkah evakuasi permanen ini menjadi solusi paling logis demi menjamin keselamatan jiwa masyarakat dalam jangka panjang.
Selain koordinasi internal, BPBD juga telah meneruskan laporan resmi kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI. Lembaga pengelolaan sungai tersebut merespons laporan dengan mengirimkan tim teknis ke lokasi bencana untuk pengkajian infrastruktur tebing.
“Untuk tim BWSS telah turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi,” jelas Sholihin mengenai sinergi antarinstansi tersebut.
Sholihin menjelaskan bahwa seluruh wilayah sepanjang aliran Sungai Batanghari memiliki karakteristik tanah yang labil dan berpotensi tinggi mengalami longsor. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau seluruh masyarakat yang menetap di bantaran sungai agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan harian mereka.
Meskipun wilayah Jambi saat ini mulai memasuki musim kemarau, intensitas curah hujan lokal ternyata masih tergolong cukup tinggi. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini kerap memicu fluktuasi debit air sungai yang mempercepat pengikisan tebing tanah.
“Jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah atau tebing mulai tergerus, segera laporkan kepada pemerintah desa atau BPBD agar bisa segera ditindaklanjuti,” pungkas Sholihin.(ar)









