Jambi, oegopost.id – Sebanyak 15 anggota masyarakat adat Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dari Kabupaten Batang Hari dan Sarolangun terlibat dalam pencegahan Karhutla di Jambi, sehingga program Orang Rimba dilibatkan dalam pencegahan Karhutla Jambi mulai berjalan di lapangan.
Ismael menjelaskan perubahan iklim menimbulkan kondisi yang kontradiktif. Beberapa wilayah mengalami banjir bandang akibat hujan ekstrem. Wilayah lain justru menghadapi kebakaran hutan. Ia menegaskan kelompok rentan seperti Orang Rimba paling terdampak situasi ini.
Karhutla Rusak Hutan dan Sumber Hidup
Ismael menyebut Karhutla merusak ekosistem hutan. Kebakaran juga menghilangkan sumber pangan masyarakat, seperti buah dan satwa buruan. Ia menambahkan dampaknya juga memicu gangguan kesehatan.
Karena itu, BPBD mendorong masyarakat ikut terlibat dalam pencegahan Karhutla. Hal ini terutama untuk masyarakat yang tinggal di kawasan rawan. Project Officer KKI Warsi, Jauharul Maknun, mengatakan pihaknya melatih masyarakat adat Orang Rimba dalam penanganan Karhutla. Kegiatan ini melibatkan Basarnas, Manggala Agni, dan TNI-Polri. Simulasi juga mencakup penanganan darurat jika terjadi cedera di lapangan.
Kearifan Lokal Diperkuat Pengetahuan Baru
Jauharul menyebut Orang Rimba memiliki kearifan lokal dalam menjaga hutan. Namun, kondisi hutan yang rentan membuat mereka perlu pengetahuan tambahan. Ia menjelaskan kebakaran sering berasal dari luar wilayah mereka. Api kemudian merambat ke kawasan jelajah Orang Rimba.
Jauharul menegaskan pelatihan Karhutla sangat penting bagi masyarakat adat. Tujuannya tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga melindungi kehidupan mereka. Ia mengatakan Orang Rimba menjadi pihak pertama yang mendeteksi titik api. Hal ini terjadi di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan Bukit Duabelas. Pelatihan ini juga mengajarkan alur pelaporan kepada pihak berwenang.***









