Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dampak Inplasi 2,29 Jambi.(ilustrasi poto: AI).

Dampak Inplasi 2,29 Jambi.(ilustrasi poto: AI).

Jambi, oegopost.id – Laju inflasi Jambi tembus 2,97 persen secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut memperlihatkan pergerakan ekonomi yang unik karena Nilai Tukar Petani justru melonjak naik sebesar 1,29 persen.

Kondisi ini langsung mengubah peta perputaran uang di berbagai wilayah Provinsi Jambi secara nyata. Sektor hulu perkebunan menikmati limpahan rezeki, sementara kawasan perkotaan menanggung lonjakan biaya hidup harian.

Kenaikan indikator kesejahteraan petani membuktikan indeks harga penerimaan hasil panen melesat lebih kencang daripada biaya produksi. Para petani komoditas sawit dan karet di daerah sentra produksi kini memegang dana segar lebih tebal.

Mereka membelanjakan keuntungan tersebut untuk membeli bibit unggul, pupuk, dan kebutuhan konsumsi harian keluarga. Efek pengganda ekonomi pun langsung menghidupkan roda pasar tradisional di Muaro Jambi, Merangin, hingga Tanjung Jabung Barat.

Warung kelontong pedesaan mencatat lonjakan transaksi barang kebutuhan rumah tangga dalam beberapa pekan terakhir. Pedagang eceran daerah sentra tani meraup omzet penjualan yang jauh lebih tinggi dibanding bulan lalu.

Namun, wajah berbeda justru membayangi pusat-pusat perbelanjaan di wilayah perkotaan Provinsi Jambi. Kenaikan harga kelompok makanan bergejolak dan ongkos logistik transportasi memicu lonjakan angka inflasi daerah.

Komoditas pangan pokok seperti beras, minyak goreng, dan cabai merah merangkak naik menyedot anggaran dapur warga. Para distributor terpaksa membebankan tambahan biaya pengiriman jalur darat ke dalam harga jual eceran.

Baca Juga :  Revitalisasi Sungai Batang Hari Tingkatkan Ekonomi Jambi

Pedagang pasar modern maupun pengecer tradisional mengeluhkan margin laba usaha yang semakin menipis setiap hari. Konsumen kini beralih membeli barang kebutuhan dapur dalam kemasan ekonomis demi menghemat pengeluaran.

Sektor Perkebunan Daerah Menikmati Kenaikan Pendapatan Petani Melimpah

Penguatan daya beli petani membentengi ekonomi pedesaan dari ancaman kelesuan transaksi pasar secara meluas. Petani sawit dan karet mengarahkan hasil panen untuk melunasi pinjaman sekaligus memperkuat modal kerja mandiri.

Peredaran likuiditas tunai di sentra perkebunan mencegah kemerosotan ekonomi daerah di tengah gelombang kenaikan harga. Sektor pertanian Jambi membuktikan perannya sebagai bantalan utama penopang denyut perekonomian lokal saat ini.

Geliat transaksi di luar kawasan kota terus menunjukkan tren peningkatan yang menggembirakan bagi pelaku usaha kecil. Pedagang sepeda motor dan barang elektronik daerah perkebunan mulai menerima lonjakan pesanan unit baru.

Meski demikian, jurang ketimpangan daya beli antara wilayah pedesaan dan kawasan perkotaan kian melebar tajam. Pemerintah daerah dituntut menjaga stabilitas arus barang agar lonjakan harga pangan tidak semakin liar.

Pasokan komoditas pokok antarkabupaten membutuhkan pengawasan ketat demi menjaga ketersediaan barang di tingkat konsumen akhir. Langkah cepat pengamanan rantai pasok pangan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi hingga pengujung tahun.

Baca Juga :  Rute Jakarta–Muaro Bungo Resmi Dibuka, Batik Air Lakukan Penerbangan Perdana

Warga Kelas Menengah Perkotaan Menghadapi Tekanan Pengeluaran Harian

Kelompok pekerja berpenghasilan tetap di kawasan perkotaan kini menanggung pukulan terberat dari lonjakan inflasi daerah. Karyawan swasta, aparatur sipil negara, dan pengusaha mikro menghadapi penyesuaian gaji yang berjalan sangat lambat.

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok langsung memangkas porsi tabungan rutin keluarga kelas menengah perkotaan. Mereka memutar otak mengatur alokasi dana agar cicilan rumah dan kendaraan bermotor tetap lancar.

Keluarga kelas menengah mulai memangkas belanja non-pokok seperti agenda rekreasi, liburan, dan makan di restoran. Kafe dan gerai busana di Kota Jambi mulai merasakan penurunan kunjungan pembeli secara bertahap.

Warga beralih ke produk pengganti yang mematok harga jual jauh lebih ramah di kantong. Fenomena penurunan kelas konsumsi ini menjadi taktik bertahan hidup di tengah biaya hidup yang melonjak.

Mereka menunda belanja gawai baru maupun perangkat elektronik rumah tangga sampai kondisi keuangan kembali stabil. Perubahan perilaku belanja ini berpotensi menahan laju pertumbuhan produk domestik regional bruto wilayah perkotaan.

Pemerintah Daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan Bank Indonesia harus segera menggelar operasi pasar murah. Koordinasi intensif antardaerah bakal mengamankan pasokan pangan serta melindungi daya beli seluruh lapisan masyarakat Jambi.(ar)

Follow WhatsApp Channel oegopost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?
Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu
Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional
Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI
Anggaran Subsidi Energi APBN 2027 Dipangkas Rp11 Triliun, DPR Buka Suara
Rupiah Rontok Rp18.000/US$, Bank Indonesia Buka Suara
Rupiah Anjlok Tembus Rp18.000, Daya Beli Kelas Menengah Terancam
Sri Kartini Alfin Dorong Promosi Kerajinan Sungai Penuh di KRIYANUSA 2026
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:55 WIB

Mengapa Sektor Industri Jambi Tetap Jadi Primadona di Pasar Ekspor Dunia?

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 12:33 WIB

Bantuan Subsidi Upah 2026 Cair, Pekerja Terima Total Rp900 Ribu

Jumat, 2 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Inflasi Jambi Tembus 2,97 Persen: Daya Beli Petani Naik, Kelas Menengah Terhimpit

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:36 WIB

Pasokan Menipis, Harga Cabai di Bungo Meroket Tajam di Pasar Tradisional

Rabu, 30 September 2026 - 09:40 WIB

Penyebab Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS dan Langkah BI

Berita Terbaru