Jambi, oegopost.id – Pemerintah Provinsi Jambi membentuk 81 Posko Karhutla Jambi untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau 2026. BPBD menempatkan posko di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan yang berada di 11 kabupaten dan kota.
BPBD menggandeng TNI, Polri, BNPB, Manggala Agni, serta relawan Masyarakat Peduli Api. Seluruh personel bersiaga untuk mencegah, memantau, dan menangani kebakaran sejak dini.
BPBD Antisipasi Puncak Kemarau Dan Fenomena El Nino
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, mengatakan awal Juli 2026 menjadi puncak musim kemarau. Pada periode yang sama, fenomena El Nino ikut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Bachyuni memperkirakan kondisi tersebut berlangsung hingga akhir September. Risiko itu bahkan dapat berlanjut sampai Oktober 2026.
“Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung pada Juli sampai akhir September, bahkan Oktober 2026,” kata Bachyuni di Jambi, Jumat (3/7/2026).
BPBD membentuk puluhan posko untuk mempercepat pencegahan karhutla. Langkah ini juga memperkuat koordinasi seluruh petugas di lapangan.
BPBD Catat Ribuan Hotspot Sejak Awal Tahun
BPBD Provinsi Jambi mencatat 1.463 hotspot berdasarkan pemantauan Satelit Aqua Terra dan Suomi NPP selama 1 Januari hingga 29 Juni 2026.
Kabupaten Tanjung Jabung Barat mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 451 titik. Muaro Jambi menyusul dengan 339 titik.
Sarolangun mencatat 199 titik panas. Merangin memiliki 138 titik, sedangkan Tanjung Jabung Timur mencatat 99 titik.
Tebo memiliki 84 titik panas. Batang Hari mencatat 71 titik dan Bungo 53 titik.
Kerinci memiliki 21 titik panas. Kota Jambi mencatat tujuh titik, sedangkan Sungai Penuh hanya satu titik.
BPBD menggunakan data tersebut untuk menentukan wilayah prioritas pengawasan. Petugas kemudian memusatkan kesiapsiagaan di daerah yang memiliki risiko paling tinggi.
Posko Percepat Pelaporan Dan Penanganan Titik Api
Setiap posko menyiapkan 10 personel lengkap dengan peralatan pemadaman. Petugas juga mengedukasi masyarakat mengenai bahaya karhutla.
Petugas memantau kawasan rawan setiap hari. Mereka langsung melaporkan setiap temuan titik api ke posko induk di Korem 042/Garuda Putih dan posko udara di Bandara Sultan Thaha Jambi.
Sistem pelaporan tersebut mempercepat koordinasi antarpetugas. Tim penanganan dapat segera bergerak ketika menerima laporan dari lapangan.
BPBD juga mencatat luas lahan terbakar mencapai 137,72 hektare selama semester pertama 2026. Batang Hari mencatat 36,42 hektare, Sarolangun 44,90 hektare, dan Tanjung Jabung Barat 33,40 hektare.
Bachyuni menegaskan BPBD membentuk 81 posko untuk menekan risiko kebakaran selama musim kemarau.
“Kami membuat 81 posko tersebar di seluruh wilayah yang rawan kebakaran hutan dan lahan dalam rangka melakukan antisipasi terjadi karhutla,” ujar Bachyuni.(ar)









