Sungai Penuh, oegopost.id – Ribuan pasang mata menyaksikan kemeriahan malam puncak Grand Final ajang bergengsi Bujang Gadis Sungai Penuh Tahun 2026. Acara tahunan garapan Ikatan Bujang Gadis Kota Sungai Penuh (IBGSP) Periode 2025–2027 tersebut berlangsung semarak di Gedung Nasional Kota Sungai Penuh pada Sabtu (3/10) malam.
Wali Kota Sungai Penuh Alfin, SH hadir langsung membuka perhelatan bersama Wakil Wali Kota Azhar Hamzah. Kehadiran pucuk pimpinan daerah ini mempertegas komitmen penuh pemerintah kota dalam membina generasi muda dan memajukan sektor pariwisata lokal.
Deretan pejabat teras daerah turut memadati kursi undangan kehormatan di dalam gedung. Mereka meliputi jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Alpian, SE., MM., Ketua Dekranasda Sri Kartini Alfin, S.Kep., Ns., Ketua GOW Mawarti Azhar, serta Ketua DWP Winda Rahayu.
Para asisten daerah dan jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga ikut mengawal jalannya acara hingga larut malam. Pemerintah Kota Sungai Penuh memandang ajang pencarian duta muda ini menyimpan bobot strategis yang melampaui kontes fisik semata.
Wali Kota Alfin menegaskan pentingnya peran sentral pemuda dalam memacu roda pembangunan kota ke depan. Generasi baru harus memiliki bekal mental yang kokoh agar mampu bersaing secara sehat di berbagai panggung prestasi.
“Pemuda merupakan bagian penting dalam kemajuan daerah,” ujar Alfin di hadapan ratusan hadirin yang memadati tribun gedung. Ia berharap ajang ini mencetak figur teladan yang berwawasan luas sekaligus mampu mengharumkan nama Kota Sungai Penuh di tingkat regional maupun nasional.
Dorong Promosi Wisata Budaya Serta Pembinaan Generasi
Para duta terpilih kini menyandang mandat resmi untuk mempromosikan destinasi wisata unggulan daerah ke khalayak luas. Mereka akan mengenalkan pesona Bukit Khayangan, keagungan arsitektur Masjid Agung Pondok Tinggi, hingga kelezatan ragam kuliner khas melalui kanal media digital kreatif.
Langkah promosi terpadu tersebut sekaligus membangkitkan kembali kebanggaan warga terhadap pemakaian busana adat, batik khas, dan bahasa daerah. Ajang ini secara efektif menyaring potensi talenta muda agar siap menjadi garda terdepan pelestari budaya leluhur.
Selain mengemban misi promosi kebudayaan, kompetisi ini menempa kapasitas intelektual seluruh finalis secara terukur. Panitia membekali mereka dengan keterampilan berbicara di depan umum, tata krama pergaulan internasional, seni diplomasi, serta kepedulian terhadap dinamika sosial warga kota.
Proses pembinaan intensif ini langsung melahirkan panutan positif bagi kalangan Gen Z di seluruh pelosok Sungai Penuh. Para finalis kini memiliki akses jejaring profesional yang lebih terbuka untuk berkolaborasi bersama para pemangku kebijakan publik.
Gerakkan Roda Ekonomi Kreatif Hingga Usaha Mikro
Penyelenggaraan grand final terbukti menyalakan geliat sektor ekonomi kreatif lokal sejak masa karantina hingga malam puncak. Puluhan penata rias, perancang busana daerah, penjahit, pengusaha sewa baju adat, hingga fotografer dan videografer panen pesanan jasa.
Perputaran uang tunai mengalir deras menyentuh para pedagang kaki lima dan pemilik warung kuliner di seputar kawasan Gedung Nasional. Sektor pendukung seperti jasa parkir kendaraan dan armada transportasi lokal turut menikmati berkah lonjakan pengunjung selama acara berlangsung.
Pemerintah daerah meyakini promosi destinasi yang terarah dari para duta wisata akan memikat lebih banyak pelancong luar kota. Arus kunjungan yang stabil otomatis memperpanjang masa tinggal para wisatawan di dataran tinggi ini.
Peningkatan durasi kunjungan turis tersebut pada akhirnya mendongkrak tingkat hunian hotel dan losmen secara nyata. Sinergi antara pemuda kreatif dan promosi pariwisata berkelanjutan pun menjadi motor penggerak baru bagi ketahanan ekonomi riil masyarakat Kota Sungai Penuh.(ar)









