Jambi, oegopost.id – Upaya petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan memasuk fase krusial. Namun, tim Satgas belum bisa meluncurkan operasi hujan buatan Jambi karena atmosfer belum menyediakan awan potensial penyemaian garam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan kondisi minim awan ini bertahan setidaknya hingga 22 Agustus 2026. Apabila cuaca Kering terus berlangsung tanpa hujan deras, wilayah Jambi berpotensi menghadapi ancaman karhutla yang lebih besar.
Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa tim udara terus memantau pergerakan langit setiap hari. Sayangnya, parameter teknis di atmosfer belum memungkinkan pesawat menyemai bahan kimia pemancing hujan.
Gubernur menyebutkan bahwa ketiadaan bintik awan menjadi penghalang utama pelaksanaan modifikasi cuaca. Padahal, guyuran hujan lebat sangat efektif untuk memadamkan titik api serta menghilangkan kepungan kabut asap.
Kendala Awan Menjadi Penghambat Utama Operasi TMC
Kini persoalan utama bukan terletak pada kesiapan armada, melainkan ketersediaan bahan baku awan di langit. Meski kondisi daerah masih relatif terkendali, pemerintah daerah mengingatkan risiko lonjakan titik panas jika kemarau berlanjut.
Masyarakat mulai merasakan dampak langsung musim kemarau di berbagai wilayah Jambi. Peningkatan kadar debu mengotori udara, sementara pasokan air bersih warga mulai menyusut secara bertahap.
Pemerintah Provinsi Jambi menempatkan teknologi modifikasi cuaca sebagai instrumen pemadam utama. Langkah ini menjadi solusi cepat ketika petugas darat kewalahan menjangkau titik api di lahan gambut.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengonfirmasi bahwa puncak kemarau berlangsung hingga Oktober. Berdasarkan hasil pemantauan udara, awan potensial hujan justru menumpuk di Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah.
Luas Kebakaran Lahan di Jambi Melampaui 300 Hektare
Satu unit pesawat Cessna milik BNPB sebenarnya telah bersiaga penuh di bandara. Armada ini siap lepas landas kapan saja untuk mengeksekusi penyemaian begitu bibit hujan terdeteksi radar.
Di tengah penantian hujan turun, luas lahan terbakar di Jambi sudah menembus angka 300 hektare. Petugas gabungan terus mengguyur titik api di Kecamatan Rantau Rasau, Tanjung Jabung Timur.
Kerusakan lahan di Kabupaten Muaro Jambi bahkan tercatat telah melampaui area seluas 50 hektare. Tim Satgas darat berjibaku melokalisasi perambatan api agar tidak meluas ke pemukiman warga.
Kondisi lapangan semakin rumit karena pergerakan angin membawa kabut asap dari luar daerah. Tiupan angin dari arah tenggara mengangkut asap kebakaran lahan dari wilayah Sumatera Selatan.
Dukungan Armada Udara Pusat Harus Berbagi Dengan Daerah
Dampak asap kiriman ini menurunkan kualitas udara sekaligus memperpendek jarak pandang warga. Satgas Karhutla Jambi terus berkoordinasi untuk meminimalkan dampak buruk polusi udara tersebut.
Saat ini Satgas mengandalkan empat unit helikopter bantuan pusat untuk patroli dan water bombing. Namun, memuncaknya fenomena El Nino memaksa pemerintah pusat membagi alokasi armada udara ke provinsi lain.
Helikopter pemadam sempat bergeser sementara untuk mengatasi kebakaran hutan di Gunung Bromo dan Bekasi. Pembagian armada secara dinamis ini merespons eskalasi bencana karhutla di tingkat nasional.
Kini Pemerintah Provinsi Jambi harus berpacu dengan waktu di tengah teriknya musim kemarau. Semua personel, armada udara, dan peralatan pemadam telah bersiaga penuh menunggu munculnya awan hujan.(ar)









